Pengertian Neraca (Balance Sheet)

Neraca adalah informasi yang menggambarkan tentang kondisi dan situasi current asset, noncurrent asset,  liabilities  dan shareholders equity serta berbagai item lainnya yang termasuk di sana, untuk selanjutnya informasi tersebut dijadikan sebagai alat dalam mendukung proses pengambilan keputusan (decision making) (Fahmi, 2015:29).

Neraca digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Neraca bisa digambarkan sebagai potret kondisi keungan suatu perusahaan pada suatu waktu tertentu (snapshot keuangan perusahaan) yang meliputi aset (sumber daya/resources) perusahaan dan klaim atas aset tersebut (meliputi utang dan saham sendiri) (Hanafi dan Halim, 2014:14).

 Manfaat Informasi Neraca

Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari informasi yang terdapat di neraca (balance sheet), yaitu (Fahmi, 2015:31):

  • Dapat dilihat kondisi dan situasi yang menggambarkan kepemilikan aktiva dan pasiva perusahaan.
  • Bagi investor dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam menetapkan keputusan pada perusahaan tersebut, seperti keinginan untuk berinvestasi atau tidak.
  • Informasi neraca memperlihatkan kondisi likuiditas perusahaan, terutama pada posisi current ratio (rasio lancar).
  • Informasi yang diberikan di neraca akan menjadi lebih bermanfaat pada saat dipergunakan sebagai salah satu pendukung pengambilan keputusan terutama dengan menempatkan dan memasukkan angka-angka yang terdapat di neraca pada formula yang dipakai.

 Element Neraca

Kedudukan aset, liabilitas dan ekuitas menurut Fahmi (2015:29) adalah sebagai berikut:

Elemen-elemen neraca yaitu:

              1.       Aset

Aset (aktiva) adalah manfaat ekonomis yang akan diterima pada masa mendatang, atau akan dikuasai oleh perusahaan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian (Hanafi & Halim, 2014:51).

Secara umum aset dibagi menjadi 2 yaitu:

a.      Current Assets (aset lancar) merupakan aset yang memiliki tingkat perputaran yang tinggi dan paling cepat bisa dijadikan uang tunai, dengan penetapan periode waktu biasanya 1 (satu) tahun (Fahmi, 2015:31). Item-item yang termasuk dalam kategori aset lancar antara lain:

·      Kas

·      Emas

·      Obligasi

·      Saham

·      Piutang

·      Persediaan

b.      Non Current Assets atau Fixed Assets (aset tidak lancar) merupakan aktiva perusahaan yang dianggap tidak lancar atau tidak bisa cepat untuk diuangkan jika perusahaan memerlukan dana. Item yang termasuk dari aset tidak lancar antara lain (Fahmi, 2015:69):

·      Tanah (land)

·      Gedung (build)

·      Pabrik (manufaktur)

·      Rumah (home)

·      Kendaraan

·      Peralatan

·      Goodwill dst

            2.      Liabilitas

Utang adalah pengorbanan ekonomis yang mungkin timbul di masa mendatang dari kewajiban perusahaan sekarang untuk mentransfer aset atau memberikan jasa ke pihak lain di masa mendatang, sebagai akibat transaksi atau kejadian di masa lalu (Hanafi & Halim, 2014:51).

Liabilitas (utang) merupakan kewajiban yang dimiliki oleh pihak perusahaan  yang bersumber dari dana eksternal baik yang berasal dari sumber pinjaman perbankan, leasing, penjualan obligasi dan sejenisnya (Fahmi, 2015:80).

Secara umum liabilitas dibagi menjadi dua yaitu:

a.      Utang lancar/jangka pendek (Current liabilities/short term liabilities), utang yang digunakan untuk mendanai kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya mendukung aktivitas perusahaan yang segera dan tidak bisa ditunda. Contohnya: utang dagang, utang pajak, utang wesel, utang gaji, dsb.

b.      Utang tidak lancar/utang jangka panjang (non current liabilities/long term liabilities/long term debt), utang yang digunakan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat jangka panjang seperti pembelian mesin, tanah, pembangunan gedung. Contonya: utang obligasi, wesel bayar, utang bank jangka panjang

            3.      Modal saham

Modal saham adalah sisa dari aset suatu bisnis dikurangi dengan utang-utangnya. Modal saham merupakan bentuk kepemilikan suatu usaha  (Hanafi & Halim, 2014:51).

Ada beberapa item yang termasuk modal sendiri (Fahmi, 2015:90):

a.      Saham biasa (common stock)

b.      Saham istimewa (preferrent stock)

c.       Laba ditahan (retained earning)

Daftar Pustaka

Fahmi, Irham. (2015). Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Hanafi, M. M., & Halim, A. (2014). Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.