Definisi Persediaan

Persediaan adalah salah satu aset lancar signifikan bagi perusahaan pada umumnya, terutama perusahaan dagang, manufaktur, pertanian, kehutanan, pertambangan, kontraktor bangunan dan penjual jasa tertentu (IAI, 2020:318).

Persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, masih dalam proses produksi untuk penjualan tersebut atau dalam bentuk bahan dan perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa (PSAK 14).

PSAK 14 tidak digunakan untuk mengukur persediaan yang dimiliki oleh:

  1. Produsen Produk agrikultur dan kehutanan
  2. Hasil agrikulutur setelah panen
  3. Mineral dan produk mineral
  4. Pedagang-pedagang komoditi yang mengukur persediaan pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan
Dalam perusahaan manufaktur persediaan dikelompokkan menjadi tiga golongan (Jusup, 2011:419) yaitu:
  1. Persediaan barang jadi, adalah hasil produksi yang telah selesai dan siap untuk dijual.
  2. Persediaan barang dalam proses, adalah bagian dari barang yang diproduksi yang telah mulai diproses tetapi belum
  3. Persediaan bahan mentah atau bahan baku, adalah bahan dasar yang akan digunakan dalam produksi, tetapi belum diproses.

Biaya Perolehan Persediaan (Inventory Cost)

Persediaan harus diukur pada harga terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih / neto (the lower of cost and net realizable value).

  • Biaya perolehan adalah penjumlah seluruh biaya yang terjadi yang diperlukan untuk membawa persediaan dalam kondisi dan ke lokasi untuk dijual atau siap digunakan.
  • Nilai realisasi neto adalah taksiran harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan

Perbedaan dari biaya perolehan persediaan (inventory cost) dengan beban periodik (periode expenses) adalah biaya perolehan persediaan merupakan biaya yang seharusnya dikapitalisasi atau dibukukan sebagai aset yaitu persediaan kemudian saat dijual dibukukan sebagai beban yaitu harga pokok penjualan. Sedangkan beban periodik merupakan biaya yang tidak berhubungan langsung dengan pembelian atau produksi yang harus langsung dihitung, dibebankan dan dilaporkan sebagai beban saat terjadinya.

  • Biaya perolehan Persediaan untuk Perusahaan Dagang adalah biaya pembelian atau harga pokok pembelian suatu barang.
  • Biaya perolehan persediaan untuk perusahaan manufaktur yaitu biaya pembelian, biaya konversi dan terkadang diperlukan biaya lain-lain. 3 Komponen biaya perolehan yaitu:
  1. Biaya Pembelian

Biaya ini terdiri dari harga pembelian, bea masuk dan pajak lainnya, biaya pengangkutan dan biaya lainnya yang berhubungan langsung dengan perolehan barang dagangan, bahan baku dan bahan pelengkap produksi. Adapun diskon, rabat dan sejenisnya sebagai pengurangan biaya pembelian.

  1. Biaya Konversi

Biaya Konversi adalah biaya yang berhubungan secara langsung dengan unit produksi termasuk biaya overhead tetap dan biaya overhead variable yang dialokasikan secara sistematis untuk proses konversi dari bahan baku menjadi barang jadi.

Biaya overhead tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang nilainya relatif konstan tanpa memperhatikan volume produksi yang dihasilkan. Contoh: penyusutan bangunan dan peralatan pabrik, serta pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik.

Biaya overhead variabel adalah biaya produksi tidak langsung yang nilai berubah mengikuti perubahan kapasitas produksi. Contohnya: bahan tak langsung dan upah tak langsumg.

  1. Biaya lain-lain

Biaya lain-lain ini bias berupa: biaya overhead non produksi atau biaya percangan produk untuk pelanggan khusus.

Akuntansi dalam Persediaan

Nilai persediaan ditentukan oleh berdasarkan hasil perkalian antara jumlah kuantitas (unit fisik) dan biaya perolehan per satuan unit barang persediaan.

Nilai Persediaan = Kuantitas (Jumlah Unit) x Biaya Perolehan Satuan

Pokok Bahasan Akuntansi Persediaan:

  • Metode penentuan kuantitas persediaan
  • Metode penilaian persediaan

Penentuan Awal Persediaan

Dalam menentukan jumlah persediaan yang dimiliki perusahaan terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut:

  1. Memastikan keberadaan dan kondisi fisik barang

Pemeriksaan tidak hanya dari kuantitas barang yang dimiliki perusahaan saja, melainkan juga dengan kualitas barang itu sendiri misalnya terjadi kerusakan barang barang atau barang sudah melewati masa berlakunya (expired date).

  1. Memperhatikan keberadaan barang konsinyasi yang masih menjadi milik perusahaan

Barang titipan atau barang konsinyasi merupakan barang yang kepemilikannya masih milik penitip (consignor). Untuk penjualan cicilan (installment sales), pembayarannya akan diangsur beberapa kali sehingga perlu diperhatikan perjanjian dan kemampuan atas pelunasan barang tersebut.

  1. Keberadaan barang yang masih dalam perjalanan

Terdapat peraturan hukum dagang yang berlaku atas perjanjian jual beli yang telah dibuat kesepakatan dengan rekan mengenai beberapa syarat serah terima hak milik (ownership) barang yang diperdagangkan sebagai berikut:

    • FOB (Free On Board) Shipping Point

FOB Shipping Point merupakan syarat penyerahan barang dimana biaya angkut barang (ongkos kirim) serta tanggung jawab atas segala risiko terhadap barang dagang dalam perjalanan dari gudang penjual menuju ke gudang pembeli merupakan tanggung jawab pembeli.

Saat barang dagang yang dipesan oleh pembeli sudah keluar dari gudang penjual maka baik dari pihak penjual maupun pembeli dapat langsung melakukan pencatatan meskipun barang yang dikirim belum sampai ke gudang pembeli sekalipun

Barang dalam perjalanan artinya barang yang sudah dibeli dan sudah menjadi milik perusahaan tapi belum sampai di perusahaan.

    • FOB (Free On Board) Destination

FOB Destination merupakan syarat penyerahan barang dimana biaya angkut barang (ongkos kirim) dan tanggung jawab atas segala risiko terhadap barang dagang dalam perjalanan dari gudang penjual menuju ke gudang pembeli merupakan tanggung jawab penjual.

Proses pencatatan atau penjurnalan persediaan barang terhadap pembelian barang dapat dicatat ketika barang dagang tersebut sudah sampai kepada pihak pembeli. Biasamua biaya angkut barang sudah termasuk dalam harga barang sehingga dalam pembukuan pada pihak pembeli tidak dicantumkan biaya angkut barang melainkan hanya ada pencatatan harga beli barang dagang tersebut.

Barang dalam perjalanan artinya barang yang sudah terjual dan sudah dikirim masih menjadi milik perusahaan dan belum berpindah kepemilikannya karena belum sampai ke tempat tujuan sesuai perjanjian yang sudah disepakati.

Metode Penentuan Kuantitas Persediaan

Metode penentuan kuantitas persediaan jika ditinjau dari sistem akuntasi persediaan:

  • Metode Periodik

Nilai persediaan ditentukan secara periodik/berkala (misalnya bulanan/tahunan) dengan cara menghitung fisik persediaan (jumlah unit) dan mengalikan dengan harga satuan. Ketika pembelian, persediaan dicatat di akun pembelian sedangkan pada penjualan hanya dibukukan penjualan tanpa harga pokok penjualan. Ketika akhir periode barulah dilakukan perhitungan fisik persediaan. Misalnya:

CV Ameena Raya selama tahun 2017 memperlihatkan saldo persediaan dan transaksi atas perdagangan Payung sebagai berikut:

Saldo awal Januari 2017 (Perhitungan fisik): 40 Pcs @ Rp50.000 = Rp 2.000.000
Pembelian kredit selama januari:  110 @ Rp 50.000 = Rp 5.500.000
Jurnal pembelian:

Penjualan tunai selama januari 100 @ Rp 60.000 = Rp 6.000.000
Jurnal penjualan:

Berdasarkan data diatas maka dapat dilakukan perhitungan persediaan akhir dan Harga pokok Penjualan selama Januari 2017. Berdasarkan perhitungan fisik diketahui persediaan akhir adalah sebanyak 50 Pcs payung. Nilai persediaan akhir untuk paying adalah Rp 2.500.000 (50 x Rp 50.000). Perhitungan Harga Pokok Penjualan sebagai berikut:

Berdasarkan perhitungan tersebut dilakukan ayat jurnal penyesuaian yaitu:

  • Metode Perpetual

Metode perpetual adalah metode mencatat persediaan yang dilakukan setiap waktu (update) terjadinya transaksi sehingga persediaan dapat diketahui setiap waktu baik dari kuantitas maupun nilai persediaan itu sendiri. Ketika terjadi pembelian perusahaan akan mendebit akun persediaan. Saat penjualan, persediaan akan langsung berkurang dan mencatat harga pokok penjualan.

Meskipun perusahaan dapat mengetahui kuantitas dan nilai persediaan setiap saat, perhitungan fisik sebaiknya tetap dilakukan sebagai antisipasi adanya risiko barang yang hilang atau kesalahan pencatatan akibat kesalahan manusia (Human Error).

Contoh: CV Ameena Raya selama tahun 2017 memperlihatkan saldo persediaan dan transaksi atas perdagangan Payung sebagai berikut:

Saldo awal Januari 2017 (Perhitungan fisik) adalah 40 Pcs @ Rp50.000 = Rp 2.000.000
Pembelian kredit selama januari 110 @ Rp 50.000 = Rp 5.500.000
Jurnal pembelian:

Penjualan Tunai selama januari 100 @ Rp 60.000 = Rp 6.000.000
Jurnal Penjualan:

Metode Penilaian Persediaan

Metode untuk menilai persediaan dan harga pokok produksi dengan asumsi arus biaya terdiri dari 3 metode yaitu:

  1. Identifikasi Khusus (Spesific Identification)

Metode ini untuk perdagangan atau produksi barang dagang yang khusus dan unik serta bernilai tinggi. Misalnya: barang antik, karya seni, intan mustika, bangunan rumah dan lain sebagainya. Metode ini menggunakan metode biaya pesanan (job order costing) untuk menghitung biaya pokok produksi.

Selengkapnya 

  1. Rata-rata (Average) / rata-rata tertimbang (weight average)

Untuk menghitung biaya rata-rata per unit dalam metode rata-rata tertimbang diperoleh dari Total biaya dari barang yang siap dijual (Total biaya persediaan awal + Total Biaya pembelian) dibagi dengan unit yang tersedia untuk dijual (unit persediaan awal + unit dari pembelian). Selengkapnya Metode Rata-Rata

  1. Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP/FIFO)

Metode MPKP/FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Selengkapnya 

Pihak IASB memutuskan untuk menghilangkan metode Last In First Out (LIFO) meskipun terdapat beberapa negara yang masih menggunakan metode ini atas faktor perpajakan. Hal ini terjadi karena metode LIFO karena secara umum tidak mencerminkan penyajian yang andal dari arus aktual persediaan.

Daftar Pustaka

Kartikahadi, Hans (2020). dkk. Akuntansi Keuangan: berdasarkan SAK berbasis IFRS. Edisi ketiga buku 1. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.
Jusup, A. H. (2011). Dasar-dasar Akuntansi. Yogyakarta: STIE YKPN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.