Pengertian Perilaku Konsumen
Konsumen adalah salah satu pelaku ekonomi yang selalu dihadapkan pada berbagai alternative pilihan, baik ketika mereka berada di pasar output (pasar produk) maupun di pasar input (pasar faktor produksi) (Amalia dan Murni, 2017:129).
Perilaku konsumen adalah perilaku yang ditunjukkan konsumen dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai mengatur barang atau jasa yang dianggap mampu memuaskan kebutuhan mereka (Wibowo dan Supriadi, 2013:235).
Ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Wibowo dan Supriadi (2013:235) yaitu:
  1. Faktor eksternal, merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, strategi marketing, dan kelompok referensi. Kelompok referensi adalah kelompok yang memiliki pengaruh langsung ataupun tidak langsung pada sikap dan perilaku konsumen.
  2. Faktor internal, meliputi motivasi, persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian, dan belajar.
 Teori Tingkah Laku Konsumen
Teori tingkah laku konsumen menerangkan tentang perilaku konsumen di pasaran, yaitu menerangkan sikap konsumen dalam membeli dan memilih barang yang akan dibelinya. Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan ke dalam dua pendekatan yaitu pendekatan nilai guna (utiliti) kardinal  dan nilai guna ordinal (Sukirno, 2005:153).
Pendekatan Nilai Guna (Utiliti)/Kardinal
Utilitas (nilai guna) adalah kemampuan sesuatu barang dalam memenuhi kebutuhan manusia. Nilai guna berbeda-beda ada yang rendah, ada yang tinggi tergantung pada jenis barang dan kebutuhan seseorang (Amalia dan Murni, 2017:130).
Pendekatan kardinal/guna batas (marginal utility) yaitu kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang/jasa dapat diukur  atau dihitung dengan angka, uang atau menggunakan satuan lainnya (Nuraini, 2016:48).
Nilai guna atau utiliti adalah kepuasan yang diterima seseorang dari mengkonsumsi suatu barang. Konsep nilai guna dibedakan menjadi dua yaitu: (Case & Fair, 2017 dalam Amalia dan Murni, 2017:130)
1.         Total utility (TU) atau nilai guna total
Nilai guna total adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumi sejumlah barang tertentu (Sukirno, 2005: 154).
Total utility adalah jumlah keseluruhan kepuasan yang diperoleh konsumen dalam mengkonsumsi sejumlah barang tertentu.  Hukum yang berlaku disebut increase total utility, yang menyatakan bahwa semakin banyak yang dikonsumsi persatuan waktu, semakin besar jumlah nilai guna (TU) yang diperoleh, sampai pada satu titik tertentu (titik kepuasan maksimum). Setelah titik ini terdapat penambahan jumlah barang yang di konsumsi akan menimbulkan TU menurun.
2.        Maginal utility (MU) atau nilai guna marjinal
Nilai guna marjinal adalah tambahan kepuasan yang diperoleh dari tambahan seunit barang yang dikonsumsi (Sukirno, 2005: 154).
Marginal utility (MU) yaitu pertambahan nilai guna (kepuasan) yang diperoleh sebagai akibat dari pertambahan satu unit barang yang di konsumsi. Hukum yang berlaku disebut law of dimishing marginal utiliy yang menyatakan bahwa semakin banyak suatu barang yang di konsumsi pertambahan nilai guna (kepuasan) yang diperoleh dari setiap pertambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menurun.
Berlakunya increase total utility dan marginal utility dapat dilihat dalam tabel dan grafik berikut:
Rumus  MU = ΔTU/ ΔQ
                      MU = 18-10/2-1 = 8/1 = 8
Secara grafis hubungan antara jumlah barang yang dikonsumsi dengan TU dan MU dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Keterangan:
  • Kurva nilai guna total (TU) bermula dari titik 0, yang berarti pada waktu itu tidak terdapat konsumsi, nilai guna sama dengan nol.
  • Sebelum mencapai titik kepuasan maka tambahan konsumsi barang  akan memberikan tambahan terhadap utilitas, tetapi setelah titik kepuasan maka tambahan konsumsi barang akan menurunkan utilitas konsumen.
  • Kurva nilai guna marjinal (MU) turun dari kiri atas ke kanan bawah. Hal ini mencerminkan hukum nilai guna marjinal yang semakin menurun. Kurva nilai marjinal memotong sumbu datar sesudah jumlah yang kedelapan. Berarti setelah perpotongan tersebut nilai guna negatif
  • Ketika kurva TU naik, nilai MU positif dan kurvanya di atas sumbu horizontal.
  • Ketika kurva TU maksimum nilai MU nol, kurvanya memotong sumbu horizontal.
  • Ketika kurva TU menurun nilai MU negative dan kurvanya di bawah sumbu horizontal.
Memaksimuman Nilai Guna
Setiap orang akan berusaha untuk memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsinya. Apabila yang dikonsumsinya hanya satu barang saja, tingkat nilai guna dari menikmati barang itu akan mencapai tingkat yang maksimum pada saat nilai guna total mencapai tingkat maksimum juga. Tetapi kalau barang yang digunakan adalah berbagai jenis, cara untuk menentukan corak konsumsi barang-barang akan menciptakan nilai guna yang maksimum menjadi lebih rumit (Sukirno, 2005:157).
Syarat Pemaksimuman Nilai Guna
Dalam keadaan dimana harga-harga berbagai macam barang adalah berbeda, maka syarat yang harus dipenuhi agar barang-barang yang dikonsumsi akan memberikan nilai guna yang maksimum adalah setiap uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marjinal yang sama besarnya. Syarat memaksimuman kepuasan adalah:
 
Dimana:
MUA, MUdan MUC  adalah nilai guna marginal barang A, B dan C
PA, Pdan PC  adalah harga barang A, B dan C
Teori Nilai Guna dan Teori Permintaan
Kurva permintaan yang bersifat menurun dari kiri atas kekanan bawah dapat dijelaskan dengan menggunakan teori nilai guna. Ada dua faktor yang menyebabkan permintaan atas suatu barang berubah apabila harga barang itu mengalami perubahan, yaitu (Sukirno, 2005:58):
  1. Efek Penggantian, adalah perubahan citra rasa konsumen dalam mengkonsumi suatu barang apabila dibandingkan dengan barang-barang lain sebagai akibat perubahan harga barang tersebut.
  2. Efek pendapatan adalah pengaruh atau akibat perubahan harga sesuatu barang terhadap pendapatan riil konsumen  yang menggunakan barang yang mengalami perubahan harga.
Paradoks Nilai
Paradok nilai adalah keanehan dalam menilai barang berdasarkan harganya bukan berdasarkan manfaatnya kepada kehidupan manusia. Harga berlian tinggi tetapi manfaatnya kepada manusia rendah. Sedangkan harga air rendah tetapi manfaatnya tinggi (Sukirno, 2005:165).
Surplus Konsumen
Surplus konsumen adalah kelebihan kenikmatan konsumen dalam mengkonsumsi sesuatu barang apabila dibandingkan dengan pembayaran yang perlu dilakukan untuk memperoleh barang tersebut (Sukirno, 2005:165).
ContohKetika Meri ingin membeli sebuah baju, dari informasi di peroleh harga baju sebesar 300.000. Meri sangat memenginginkan baju itu dan dia bersedia membayar 400.000. Ketika Meri akan membeli baju dia menyiapkan uang sebesar 400.000, saat baju itu dibayar meri mengeluarkan 300.000, sehingga kelebihan kepuasaan atau surplus konsumen sebesar 100.000.

 
Daftar pustaka
Amaliawiati, L. dan Murni, A. (2017). Ekonomika Mikro Edisi Revisi kedua. Bandung: Refika Aditama
Nuraini, I. (2016). Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: UMM Press
Sukirno, S. (2005). Mikro Ekonomi Teori Pengantar (Edisi ketiga). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Wibowo, S., & Supriadi, D. (2013). Ekonomi Mikro Islam. Bandung: Pustaka Setia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.