Kas

Kas (cash) dalam arti sempit artinya uang tunai, baik dalam bentuk yang logam atau kertas. Dalam arti luas  kas terdiri dari uang tunai, simpanan dalam bentuk tabungan, deposito jangka pendek, cek yang diterima dan sebagainya.

Definisi Kas

Kas menurut PSAK 207 terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposits). Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, yang dengan cepat dapat segera dikonversikan menjadi kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.

Tujuan setara kas dimiliki entitas adalah untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi kualifikasi setara kas, suatu investasi harus segera dapat dikonversikan menjadi kas (misalnya tiga bulan atau kurang sejak diperoleh) dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan yang tidak signifikan (PSAK 207).

Perkiraan yang digolongkan Kas dan Setara Kas 

Perkiraan-perkiraan yang dapat digolongkan sebagai kas dan setara kas antara lain:

  • Kas kecil (petty cash) (dalam rupiah atau mata uang asing)
  • Rekening giro (dalam rupiah atau mata uang asing)
  • Bon sementara (IOU atau I Owe You)
  • Bon-bon kas kecil yang belum diganti atau direimbursed
  • Check tunai yang akan didepositokan
  • Deposito berjangka yang akan jatuh tempo dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan dari tanggal penempatan dan tidak dijaminkan.
  • Instrumen pasar uang yang diperoleh dan akan dicairkan kurang dari tiga bulan.

Perkiraan yang tidak termasuk Kas dan Setara Kas 

Perkiraan-perkiraan yang tidak dapat digolongkan sebagai kas dan setara kas antara lain:

  • Deposito berjangka (time deposit)
  • Check mundur dan cek kosong
  • Dana yang disisihkan  tujuan tertentu (singking fund).
  • Rekening giro yang tidak dapat segera digunakan baik di dalam maupun di luar negeri, misalnya karena dibekukan.

Pengendalian Kas

Kas dalam bentuk uang tunai sangat mudah disalahgunakan dalam sebuah entitas. Hal ini disebabkan karena  sifatnya yang sangat likuid dan mudah diakses, sehingga sering kali tidak meninggalkan jejak yang jelas. Kas bisa menjadi sasaran empuk untuk pencurian, manipulasi laporan keuangan, dan penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga perlu adanya sistem kontrol internal yang kuat.

Beberapa Sistem Kontrol Kas diantaranya:

  • Pemisahan Tugas: Memisahkan tanggung jawab terkait kas, misalnya orang yang menangani penerimaan/pengeluaran kas, tidak boleh bertanggung jawab atas pencatatan kas. Pihak yang menerima kas kecil dalam perusahaan di pegang oleh kasir, pihak yang menerima kas dalam bank finance, pihak yang mencatat kas yaitu accounting.
  • Laporan Kas Harian, Membuat laporan penerimaan kas harian, dan mencocokkan saldo kas menurut di catatan dan saldo kas secara fisik setiap pagi dan sore sebelum pulang.
  • Penerimaan Kas: Semua penerimaan kas harus segera dicatat dan disetorkan ke bank secara harian.
  • Otorisasi dan Persetujuan: Setiap transaksi kas harus mendapatkan otorisasi dari manajer atau atasan yang berwenang. Pembayaran harus disetujui oleh pihak yang berbeda dari yang mempersiapkan cek atau transfer.
  • Membentuk Kas Kecil, menggunakan sistem kas kecil (petty cash) dengan jumlah yang dibatasi dan mencatat setiap pengeluaran dengan bukti pengeluaran yang valid. Mengisi kembali kas kecil harus dilakukan dengan cek atau transfer bank dan memerlukan persetujuan.
  • Rekonsiliasi Bank: Melakukan rekonsiliasi saldo rekening bank dengan catatan akuntansi secara rutin (misalnya, setiap bulan) untuk memastikan bahwa semua transaksi telah dicatat dengan benar dan untuk mendeteksi adanya penyimpangan.
  • Pengeluaran kas: Setiap pengeluaran kas harus mendapat otorisasi dan persetujuan dan harus segera dicatat. Jika pengeluaran  dengan nominal yang besar harus melalui cek atau transfer.
  • Pengawasan dan Audit: Mengadakan audit internal secara berkala untuk memeriksa transaksi kas dan memastikan kepatuhan terhadap prosedur pengendalian internal. Audit eksternal juga dapat dilakukan untuk verifikasi tambahan.
  • Pembatasan Akses: Membatasi akses fisik dan digital ke kas hanya kepada karyawan yang berwenang. Kas harus disimpan dalam brankas yang terkunci dan sistem informasi akuntansi harus memiliki kontrol akses yang ketat

Sistem Kas Kecil (Petty Cash)

Kas kecil digunakan entitas untuk pembayaran sehari-hari yang sifatnya tidak material, insidental. Kas kecil bukan digunakan untuk pembayaran rutin dan dapat diprediksi, misalnya pembelian snack untuk tamu, pembelian materai, pengiriman surat/dokumen yang sifatnya tidak rutin dan lain-lain. 

Dua Sistem Pengelolaan Kas Kecil

  • Imprest (Dana Tetap)

Sistem imprest, pengakuan transaksi dilakukan ketika saldo kas kecil telah mencapai saldo minimumnya. Akun kas kecil adalah akun sederhana seperti memisahkan sejumlah kas dalam kotak terkunci untuk beban tidak terduga. Kas kecil ini biasanya tidak material, nominalnya kecil sehingga perlu diisi setiap bulan atau dua kali sebulan.

Sistem dana tetap merupakan salah satu bentuk pengawasan atas kas kecil. Dalam sistem ini kas/kas kecil ditentukan dalam jumlah tertentu, misalnya 10 juta. Pemegang kas mengeluarkan uang dengan membuat bukti/bon kas kecil dan bukti pendukungnya. Jika uang tunai dirasa sudah perlu untuk diisi kembali maka seluruh transaksi di rekap dan diserahkan kepada atasannya untuk di cek/direviu dan disetujui untuk dilakukan pengisian kembali (reimbursement).

  • Fluctuating (Dana Tidak Tetap)

Sistem fluctuating atau metode dana tidak tetap (berubah-ubah) adalah metode pengisian kas yang dilakukan tidak tetap (berubah-ubah) sesuai dengan kebutuhan.

Perbandingan Metode imprest dan fluctuating dan sistem kas kecil

ImprestFluctuating
Pembuatan kas kecil sebesar Rp. 5.000.000 dengan batas minimum kas 1.000.000
Jurnal:
Kas Kecil (Debet) Rp. 5.000.000
Kas (Kredit) Rp. 5.000.000
Pembuatan kas kecil sebesar Rp. 5.000.000 dengan batas minimum kas 1.000.000
Jurnal:
Kas Kecil (Debet) Rp. 5.000.000
Kas (Kredit) Rp. 5.000.000
Pembayaran pengiriman dokumen sebesar Rp. 1.000.000
Jurnal:
Tidak dijurnal
Pembayaran pengiriman dokumen sebesar Rp. 1.000.000
Jurnal:
Beban pengiriman (Debet) Rp. 1.000.000
Kas Kecil (Kredit) Rp. 1.000.000
Pembelian Materai sebesar Rp. 500.000
Jurnal:
Tidak dijurnal
Pembelian Materai sebesar Rp. 500.000
Jurnal:
Beban Materai (ATK) (Debet) Rp 500.000
Kas Kecil (Kredit) Rp 500.000
Pembayaran konsumsi rapat sebesar Rp 3.000.000 dan pengisian kas kecil Rp 1.500.000
Jurnal:
Beban pengiriman (Debet) Rp. 1.000.000
Beban Materai (ATK) (Debet) Rp. 500.000
Beban Konsumsi rapat (Debet) Rp. 3.000.000
Kas (Kredit) Rp. 4.500.000
Pembayaran konsumsi rapat sebesar Rp 3.000.000 dan pengisian kas kecil Rp. 1.500.000
Jurnal:
Beban Konsumsi rapat (Debet) Rp. 3.000.000
Kas kecil (Debet) Rp. 1.500.000
Kas (Kredit) Rp. 4.500.000
Pada akhir bulan saldo Kas diketahui saldo kas kecil Rp 3.500.000 sedangkan yang dipegang kasir Rp 3.000.000.
Jurnal:
Beban selisih kas (Debet) Rp 500.000
Kas (Kredit) Rp 500.000
Pada akhir bulan saldo Kas diketahui saldo kas kecil Rp 3.500.000 sedangkan yang dipegang kasir Rp 3.000.000.
Jurnal:
Beban selisih kas (Debet) Rp 500.000
Kas (Kredit) Rp 500.000

Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi bank (bank reconciliation) adalah rekonsiliasi bulanan, biasanya disiapkan oleh personil klien, atas perbedaan antara saldo kas yang dicatat dalam buku besar umum dan jumlah dalam akun bank (Arens et al., 2015:355). Rekonsiliasi bank dilakukan oleh entitas untuk menyesuaikan jumlah kas tercatat antara bank dan catatan entitas. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan cut-off pencatatan antara bank dan entitas, atau karena terjadi kesalahan pencatatan (IAI, 2020:311).

Istilah-istilah terkait laporan rekonsiliasi Bank antara lain (IAI, 2020:296-297):

  • Deposit dalam transit

merupakan deposit yang disetor pada akhir bulan namun baru diakui oleh bank pada awal bulan depannya. Transaksi telah dicatat nasabah pada bulan penyetoran namun belum dicatat oleh bank.

  • Cek masih beredar

merupakan cek yang dimuat dan telah dikeluarkan namun belum dicairkan oleh pelanggan penerima cek ke bank. Karena cek memiliki kadaluarsa lebih dari sebulan, pemasok yang menerima cek dapat kapan saja mencairkan cek entitas pada bulan berikutnya. Transaksi ini telah dicatat oleh nasabah sebagai pengeluaran namun belum tercatat oleh bank.

  • Biaya bank

merupakan biaya yang ditagih oleh bank. misalnya biaya administrasi bank, biaya penerbitan cek, cek kosong/NSF (not sufficient fund). Biasanya bank langsung memotong saldo nasabah, sehingga nasabah belum mencatat, namun transaksi tersebut telah dicatat oleh bank.

  • Kredit bank

Penagihan atau penyetoran uang yang terjadi yang menambah saldo nasabah yang mungkin belum diketahui oleh nasabah tersebut. hal ini biasanya terdapat pembayaran piutang yang belum diketahui oleh nasabah. Transaksi ini bank mencatat sedangkan nasabah belum mencatat.

  • Kesalahan (error)

Kesalahan pancatatan yang dilakukan oleh bank atau nasabah.

Contoh Rekonsiliasi Bank

CC. Adi Jaya menerima laporan bank periode Desember 2021. Saldo bank menunjukkan Rp. 1.675.313.000. Sedangkan menurut catatan pembukuan perusahaan saldo sebesar Rp. 1.496.417.000. Setelah dilakukan pemeriksaan terdapat beberapa catatan sebagai berikut:

  1. Wesel yang ditagihkan bank kepada debitur sebesar Rp. 42.680.000, dengan ongkos inkaso sebesar Rp. 6.764.000
  2. Bank memberikan jasa giro sebesar Rp. 13.754.000
  3. Cek yang diterima dari debitur dan di depositokan ke bank ternyata tidak memiliki dana dan dikembalikan oleh bank sebesar 16.758.000
  4. Sebuah cek ditempatkan untuk keperluan pribadi pemilik ternyata belum dicatat perusahaan sebesar Rp. 12.512.000
  5. Bank membebani CV. Adi Jaya sebesar Rp. 6.500.000 untuk biaya bank
  6. Simpanan dalam proses Rp. 47.350.000
  7. Terjadi kesalahan pencatatan bank, deposito sebesar Rp. 55.500.240 oleh bank dicatat sebesar Rp. 29.899.920
  8. Kesalahan pencatatan perusahaan yaitu cek sebesar Rp. 19.000.000 untuk pembayaran ongkos pembelian telah keliru dicatat sebesar Rp. 12.000.000
  9. Cek yang sedang beredar pada tanggal 31 Desember 2021 sebesar:
    • No. AB sebesar Rp. 84.325.658
    • No. CD sebesar Rp. 120.235.365
    • No. EF sebesar Rp. 40.385.297

Diminta:

  1. Susunlah rekonsiliasi bank untuk CV. Adi Jaya per 31 Desember 2021
  2. Buat ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan

    Jawaban
    1. Rekonsiliasi bank


    2. Ayat Jurnal Penyesuaian

31/12/2021    Kas  (Debet)                 Rp. 56.434.000

Piutang Wesel   (Kredit)                 Rp. 42.680.000
Pendapatan bunga (Kredit)           Rp.  13.754.000

31/12/2021  Biaya Inkaso      (Debet)     Rp.  6.764.000

Piutang usaha (Debet)       Rp. 16.758.000
Prive   (Debet)                     Rp. 12.512.000
Biaya bank   (Debet)          Rp.  6.500.000
Kendaraan   (Debet)          Rp.  7.000.000

Kas   (Kredit)                 Rp. 49.534.000

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Indonesia. (2020). Audit & Asurans. Jakarta: IAI
PSAK 2
Agoes, S.  2018. Auditing-Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik (Buku 1 ed. 5). Jakarta: Salemba Empat.
Suhayati, E. 2021. Auditing:Teori dan Praktik Dasar Pemeriksaan Akuntan Publik. Bandung:Rekayasa Sains
Tuanakotta, Theodorus M. 2016. Audit Kontemporer. Jakarta : Salemba Empat.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*