Perencanaan suatu audit melibatkan penetapan strategi audit secara keseluruhan untuk perikatan tersebut dan pengembangan rencana audit. Manfaat perencanaan Audit antara lain (SA 300):

  • Membantu auditor untuk mencurahkan perhatian yang tepat terhadap area yang penting dalam audit.
  • Membantu auditor untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang potensial secara tepat waktu.
  • Membantu auditor untuk mengorganisasi dan mengelola perikatan audit dengan baik, sehingga perikatan tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien.
  • Membantu dalam pemilihan anggota tim perikatan dengan tingkat kemampuan dan kompetensi yang tepat untuk merespons risiko yang diantisipasi, dan penugasan pekerjaan yang tepat kepada mereka.
  • Memfasilitasi arah dan supervisi atas anggota tim perikatan dan penelaahan atas pekerjaan mereka.
  • Membantu, jika relevan, dalam pengoordinasian hasil pekerjaan yang dilakukan oleh auditor komponen dan pakar.

Alasan perencanaan audit menurut Suhayati (2021) antara lain:

  1. Untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup (bukti kompeten diperoleh dari penentuan prosedur audit, penentuan besar sampel audit yang akan diuji), pemilihan item untuk sampel, penentuan waktu pelaksanaan prosedur audit.
  2. Untuk menetapkan biaya audit yang layak
  3. Menghindari salah pengertian dengan klien, untuk menjaga hubungan yang baik dengan klien dan untuk memudahkan pelaksanaan kerja yang bermutu dengan biaya yang wajar.

Tujuan perencanaan adalah untuk menentukan waktu dan ruang lingkup audit, jumlah dan jenis bukti (evidence), serta reviu yang diperlukan untuk meyakinkan auditor bahwa tidak ada salah saji material (material misstatement) dalam laporan keuangan (Hayes dkk., 2017:202).

Tujuan auditor merencanakan audit agar audit tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif (SA 300).

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan Audit antara lain (Agoes, 2018) :

  1. Masalah yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha tersebut dan industri di mana satuan usaha tersebut beroperasi di dalamnya.
  2. Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut.
  3. Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akutnansi pokok perusahaan.
  4. Penetapan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
  5. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
  6. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
  7. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan dan ketidakberesan yang material atau adanya transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
  8. Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi tugas.

Agar dapat membuat perencanaan audit yang baik, auditor harus memahami bisnis klien dengan sebaik-baiknya(understanding client business), termasuk sifat dan usaha jenis klien, struktur organisasinya, struktur permodalan, metode produksi, pemasaran, distribusi dan lain-lain (Agoes, 2018).

Isi dari perencanaan audit (Agoes, 2018) antara lain:

  1. Hal-hal mengenai klien
    1. Bidang usaha klien, alamat, nomor telp dan lain-lain
    2. Status hukum klien (nama pemilik, permodalan)
    3. Kebijakan akuntasi terdiri dari 1) buku-buku yang digunakan (buku penjualan, pembelian, kas/bank, buku memorial), 2) metode pembukuan (manual/komputerisasi) dan 3) komentar mengenai mutu pembukuan secara umum (pemilihan staf yang ditugaskan)
    4. Laporan posisi keuangan (Neraca) Komparatif dan perbandingan penjualan, laba rugi tahun lalu dengan sekarang (untuk mengetahui ukuran perusahaan).
    5. Client contract (nama-nama yang akan sering dihubungi auditor seperti presiden direktur, controller, chief accounting, dewan komisaris dan komite audit, penasihat hukum)
    6. Masalah Accounting (perubahan metode pencatatan, revaluasi aset tetap, perubahan metode tarif penyusutan), Auditing problem (hasil konfirmasi tahun lalu tidak memuaskan) dan Tax Problem (masalah restitusi, kekurangan penyetoran, adanya dua pembukuan dalam perusahaan).
  2. Hal-hal yang mempengaruhi klien

                  Hal yang mempengaruhi klien seperti masalah perekonomian, kebijakan atau aturan

                  baru.

             3. Rencana kerja auditor

                   a. Staffing (Nama partner, manager, supervisor, senior, asisten)

                   b. Waktu pemeriksaan

        • Waktu dimulainya suatu pemeriksaan
        • Berapa lama waktu pemeriksaan
        • Deadline
        • Budget, baik dalam jumlah jam kerja maupun biaya pemeriksaan.

                  c. Jenis jasa yang diberikan (general audit, special audit, kompilasi, perpajakan dll)

                 d. Bantuan-bantuan yang dapat diberikan klien

        • Mengisi formulir konfirmasi piutang, utang
        • Membuat schedule (aging piutang, rincian aset tetap, rincian utang piutang, rincian

                          biaya yang masih harus dibayar)

               e. Time schedule (rincian waktu pelaksanaan, siapa yang mengerjakan, yang mereviu, dan siapa yang menyetujui)

Program Audit (Audit Program)

Audit program merupakan kumpulan prosedur audit yang akan dilaksanakan dan tertulis. Dengan audit program diharapkan dapat membantu tim audit dalam pelaksanaan pekerjaannya. Audit program memuat rincian mengenai prosedur audit. Audit program yang baik menurut Agoes (2018) harus memuat antara lain:

  1. Tujuan pemeriksaan
  2. Prosedur audit yang akan dijalankan
  3. Kesimpulan pemeriksaan

Audit program yang baik, terpisah antara compliance test dan substantive test. Substantive test (Pengujian Substantif) adalah pengujian terhadap kewajaran saldo-saldo perkiraan laporan keuangan (neraca dan laba rugi). Contoh substantive test: Test of Details of Balance, Analitycal Procedures (misalnya perbandingan data sekarang dengan sebelumnya).

Compliance test (Pengujian kepatuhan) adalah pengujian terhadap bukti-bukti pembukuan yang mendukung transaksi yang dicatat perusahaan untuk mengetahui apakah setiap transaksi yang terjadi telah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang diterapkan manajemen. Fokus perhatian yang dilakukan dalam compliance test adalah kelengkapan Dokumen Pendukung (supporting document), Kebenaran Perhitungan Matematis (footing, cross footing, extension), Otorisasi dari berwenang, Kebenaran nomor perkiraan (debit/kredit), Kebenaran posting ke buku besar (GL).

Audit Procedur dan Audit Technik

Audit prosedur adalah langkah-langkah yang harus dijalankan auditor dalam melaksanakan pemeriksaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan penyimpangan dan dapat bekerja secara efisien dan efektif. Audit prosedur dilakukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti yang cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan. Untuk itu diperlukan audit teknikk yaitu cara-cara untuk memperoleh audit evidence yaitu konfirmasi, observasi, inspeksi  tanya jawab dan lain-lain.

 

Daftar Pustaka

Hayes, R., Wallage, P., dan Gortemaker, H. (2017). Prinsip-prinsip Pengauditan International Standards on Auditing (edisi ketiga). Jakarta: Salemba Empat.

Ardiningsih, A. (2018). Audit Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara

Elder, R. J., Beasley, M. S., Arens, A. A.,  dan Jusuf, A. A. (2011). Audit dan Jasa Assurance: Pendekatan Terpadu (Adaptasi. Indonesia). Jakarta: Penerbit Salemba Empat

Tuanakotta, T. M. (2014). Audit Berbasis ISA (International Standards on Auditing). Jakarta: Salemba Empat.

https://bakuii.com/article-item/54

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.