Masalah Agency Theory
Masalah keagenan muncul ketika manajer menyimpang dari tujuan maksimalisasi kekayaan pemegang saham dengan menempatkan tujuan pribadi mereka diatas tujuan pemegang saham.
Agency theory muncul berdasarkan adanya fenomena pemisahan antara pemilik perusahaan (pemegang saham/owner) dengan para manajer yang mengelola perusahaan. Fakta-fakta empiris menunjukkan bahwa para manajer tidak selamanya bertindak sesuai dengan kepentingan para pemilik perusahaan, melainkan seringkali terjadi bahwa para pengelola perusahaan (direksi dan manajer) bertindak mangejar kepentingan mereka sendiri (Solihin, 2009:120).
Masalah keagenan menurut Gitman dan Zutter (2012:22) adalah: “Agency problems arise when managers deviate from the goal of maximization of shareholder wealth by placing their personal goals ahead of the goalsof shareholders.” Masalah keagenan muncul ketika manajer menyimpang dari tujuan maksimalisasi kekayaan pemegang saham dengan menempatkan tujuan pribadi mereka diatas tujuan pemegang saham.
Teori keagenan menurut Eisenhard (1989) dilandasi oleh 3 (tiga) buah asumsi yaitu:
1)  Asumsi tentang sifat manusia
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded rationality), dan tidak menyukai risiko (risk aversion).
2) Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi.
3)  Asumsi tentang informasi.
Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang komoditi yang bisa diperjual belikan.
The agency theory (AT) memberikan fokus terhadap fakta yang berkembang bahwa dalam setiap organisasi individu (agent) akan bertindak sebagai pihak yang dipercaya oleh individu atau sekelompok individu lainnya (the principal). Hubungan keduanya (the principal agent relationships) akan terjadi dalam organisasi perusahaan antara pemegang saham (stockholders) sebagai principal dengan pengelola (managers) sebagai agent. Kedua pihak (agent atau principal) memiliki kepentingan masing-masing (self interests) dan kepentingan tersebut lebih banyak mengalami perbedaan dari sudut pandang keduanya (divergent of interests)(Lukviarman, 2016:38).
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai “agency relationship as a contract under which one or more person (the principals) engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating some decision making authority to the agent”. Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.
Biaya Keagenan
Upaya untuk mengatasi permasalahan keagenan ini akan menimbulkan konsekuensi biaya yang disebut biaya keagenan (agency cost)yang akan ditanggung baik oleh prinsipal maupun agen. Jensen dan Meckling (1976) membagi biaya keagenan ini menjadi:
1.       Monitoring cost, adalah biaya yang timbul dan ditanggung oleh principal untuk memonitor perilaku agent, yaitu untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agent.
2.      Bonding cost, merupakan biaya yang ditangung oleh agentuntuk menetapkan dan mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agent akan bertindak untuk kepentingan principal
3.      Residual loss, merupakan pengorbanan yang berupa berkurangnya kemakmuran principal sebagai akibat dari perbedaan keputusan agentdan keputusan principal.
Jensen dan Meckling (1976) menempatkan bahwa perusahaan dengan dengan kepemilikan manajerial lebih besar akan menyelaraskan hubungan antara kepentingan manajer dan pemegang saham, hal ini karena apabila manajer  memiliki saham, maka manajer akan mengontrol perusahaannya sehingga akan menurunkan biaya agensi dan meningkatkan nilai perusahaan.
Agency costs menurut Gitman dan Zutter (2012:22) adalah: “Costs arising from agency problems that are borne by shareholders and represent a loss of shareholder wealth.” Definisi biaya keagenan merupakan biaya yang timbul dari masalah keagenan yang ditanggung oleh pemegang saham dan menggambarkan kerugian kekayaan pemegang saham.
Kleinschmidt dan Bassen (2006:46) menjelaskan lima jenis kerugian residual pada kasus hubungan principal-agent antara pemegang saham dan manajer dari perusahaan yaitu:
1)        Kelalaian           
Manajer menggunakan jam kerja mereka untuk mengikuti kepentingan pribadi mereka bukan mengejar tujuan dari pemegang saham.
2)       Konsumsi dalam pekerjaan
Biaya tinggi untuk insentif seperti seperti kantor mewah dan jet perusahaan mengurangi sumber keuangan perusahaan.
3)       Keinginan manajer untuk tetap berkuasa
Ketika manajer saat ini tidak dapat sepenuhnya menyadari nilai perusahaan, mereka harus diganti. Sebagai manajer umumnya tidak suka kehilangan posisi mereka, hal ini akan menyebabkan konflik kepentingan dengan pemegang saham yang bisa berlangsung lama dan berhubungan dengan tingginya biaya bagi perusahaan dan pemiliknya.
4)       Penghindaran resiko oleh manajer
Manajer dan pemegang saham dari perusahaan mungkin menanggung tingkat risiko yang berbeda. Pemegang saham biasanya memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan baik sehingga kepemilikan di satu perusahaan hanya mewakili sebagian kecil dari kekayaan mereka, sehingga mereka mungkin akan tertarik dalam investasi arus kas positif meskipun berisiko. Manager memiliki mayoritas human capital yang terikat satu perusahaan saja yang membuat mereka umumnya lebih menghindari risiko, oleh karena itu manajer bisa tidak mau mengejar proyek-proyek arus kas positif tetapi lebih berisiko yang bersifat bermanfaat dari sudut pandang pemegang saham.
5)       Arus kas bebas
Manajer mungkin lebih memilih untuk menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan jika memungkinkan, padahal itu akan menjadi kepentingan dari pemegang saham untuk memiliki modal apapun yang tidak dapat diinvestasikan dalam proyek-proyek yang menguntungkan di perusahaan dibayarkan, manajer mungkin berinvestasi arus kas bebas dalam proyek yang tidak menguntungkan. Hal ini terkait dengan biaya untuk pemegang saham karena mereka mungkin mungkin menanamkan uangnya lebih menguntungkan di tempat lain.
Daftar Pustaka
Eisenhardt, K. M. (1989). Agency theory: an assessment and review. Academy of Management Review, 14(1), (57-74).
Gitman, L. J., & Zutter, C. J. (2012). Principles of managerial finance (13th ed.). England: Pearson.
Jensen, Michael C., & Meckling, William H. (1976). Theory of the firm: managerial behavior, agency costs and ownership structure. Journal of Financial Economics, 3, 305-360.
Kleinschmidt, M. (2006). Venture capital, Corporate Governance, and firm value. Hamburg: Deutscher Universitäts-Verlag.
Lukviarman, Nikki. (2016). Corporate Governance: menuju penguatan konseptual dan implementasi di Indonesia. Solo: Era Adicitra Intermedia.
Solihin, I. (2009). Corporate Social Responsibility: From Charity to Sustainability. Jakarta: Salemba Empat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.