Bentuk- Bentuk Organisasi Perusahaan

Organisasi perusahaan dapat dibedakan kepada tiga bentuk organisasi yang pokok, yaitu:
1.    Perusahaan Perseorangan
Perusahaan Perseorangan adalah organisasi perusahaan yang terbanyak  jumlahnya dalam setiap perekonomian, tetapi sumbangan kepada keseluruhan produksi nasional tidaklah terlalu besar karena usaha tersebut secara kecil-kecilan. Contoh: penjual sate, toko kelontong, toko mainan (Sukirno, 2005:190).
2.   Perusahaan Perkongsian atau Firma
Firma adalah organisasi perusahaan yang dimiliki oleh beberapa orang. Mereka sepakat untuk secara bersama menjalankan suatu usaha dan membagi keuntungan yang diperoleh berdasarkan perjanjian yang telah disepakati bersama. Modal perusahaan dikumpulkan dari anggota perkongsian itu. Setiap anggota perkongsian mempunyai tugas untuk menjalakan dan mengembangkan perusahaan yang mereka dirikan(Sukirno, 2005:190).
3.   Perseroan Terbatas
Perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas dapat mengumpulkan modal secara mengeluarkan saham-suatu bentuk surat berharga yang menyatakan bahwa pemegangnya adalah menjadi salah satu pemilik perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut, sehingga modal yang dimiliki besar (Sukirno, 2005:190).
Bentuk lain Organisasi Perusahaan
1.    Perusahaan Milik Negara (BUMN).
Pada umumnya perusahaan negara dikelola seperti perusahaan perseroan terbatas. Perbedaanya terletak pada pemilikan perusahaan tersebut, yaitu saham-saham dari perusahaan negara dimiliki oleh pemerintah. Perusahaan negara biasanya menjalankan kegiatan menyediakan jasa-jasa yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat seperti perusahaan listrik, air, telekomunikasi, perkebunan dsb (Sukirno, 2005:191).
2.   Perusahaan Koperasi
Perusahaan koperasi adalah perusahaan yang didirikan bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk melindungi kepentingan para anggotanya. Perusahaan koperasi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: koperasi konsumsi, koperasi produksi dan koperasi kredit(Sukirno, 2005:191)..
Tujuan Perusahaan: Memaksimumkan Keuntungan
Di dalam teori ekonomi, berbagai jenis perusahaan dipandang sebagai unit-unit badan usaha yang memiliki tujuan yang sama yaitu: mengatur penggunaan faktor-faktor produksi dengan cara yang seefisien mungkin sehingga usaha untuk memaksimumkan keuntungan dapat dicapai dengan cara yang paling efisien (Sukirno, 2005:192).
Cara Mencapai Tujuan Memaksimumkan Keuntungan
Keuntungan diperoleh apabila hasil penjualan melebihi dari biaya produksi, dan kerugian akan dialami apabila hasil penjualan kurang dari biaya produksi. Keuntungan yang maksimum dicapai apabila perbedaan di antara hasil penjualan dan biaya produksi mencapai tingkat yang paling besar (Sukirno, 2005:192).
Untuk memperoleh keuntungan maksimum, masalah yang harus dipecahkan adalah bagaimanakah komposisi dari faktor-faktor produksi misalnya tenaga kerja yang digunakan dan berapakah jumlah faktor produksi yang akan digunakan. Menentukan komposisi faktor produksi perlu memperhatikan (i) besarnya pembayaran kepada faktor produksi tambahan yang akan digunakan, dan (ii) besarnya pertambahan hasil penjualan yang diwujudkan oleh faktor produksi yang ditambah tersebut (Sukirno, 2005:193).

Dasar keputusan perusahaan dalam memaksimumkan keuntungan:
1.    Banyaknya output di produksi
2.   Teknologi produk yang dipakai
3.   Permintaan input oleh perusahaan
Jangka Waktu Analisa
Analisis ke atas kegiatan memproduksi perusahaan dibedakan menjadi dua yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek kebanyakan faktor produksi adalah tetap, hanya tenaga kerja yang harus ditambah. Dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat ditambah. Dalam jangka panjang perusahaan dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pasar. Jumlah alat-alat produksi dapat ditambah, mesin dapat dirombak, teknologi ditingkatkan (Sukirno, 2005:194). 
Fungsi Produksi
Teori perilaku produsen adalah teori yang menjelaskan tentang bagaimana tingkah laku produsen dalam menghasilkan produk yang selalu berupaya untuk mencapai efisiensi dalam kegiatan produksinya Amaliawati dan Murni (2017:174).
Produksi menurut Amaliawati dan Murni (2017:173) adalah setiap kegiatan yang dapat meningkatkan utility (nilai guna) suatu barang.  Bentuk-bentuk kegitan antara lain:
  1. From changing activitie, yaitu suatu kegiatan merubah bentuk dari suatu barang. Contoh dari beras menjadi bubur.
  2. Transportation, yaitu kegiatan memindah barang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh memindahkan ikan ke pasar.
  3.  Storage, yaitu kegiatan menyimpan suatu barang yang akan digunakan dimasa yang akan datang.  Contoh menyimpan emas.
  4. Merchandishing,  yaitu kegiatan memperdagangkan suatu barang agar sampai ke tangan konsumen yang membutuhkan. Contoh tindakan pedagang.
  5. Personal service, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang orang lain mengakui keberadaannya. Contoh dosen, guru, dokter.
Teori produksi menjelaskan hubungan antara jumlah output maksimum yang bisa diproduksi dengan menggunakan sejumlah input-input yang tersedia pada tingkat teknik tertentu (Amaliawati dan Murni, 2017:174).

Teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat produksi, jumlah faktor produksi,, dan hasil penjualan produksi (Wibowo dan Supriadi, 2013:252).
Dua jenis keputusan yang dilakukan produsen untuk melakukan produksi yaitu(Wibowo dan Supriadi, 2013:252):
1.  Jumlah output yang harus diproduksikan
2. Berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan
Faktor-faktor produksi dikenal dengan istilah input dan jumlah poduksi dikenal dengan output.Fungsi faktor produksi dinyatakan sebagai berikut:
Q = f (K, L, R, T)
Keterangan:
Q = jumlah produksi yang dihasilkan
K = modal (capital)
L = tenaga kerja (labour)
R = sumber daya (resources)
T = teknologi (tegnology) atau keahlian/kewirausahaan
Dari fungsi diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah produksi yang dihasilkan tergantung pada jumlah modal yang tersedia, jumlah tenaga kerja, jumlah sumber daya atau kekayaan alam dan tingkat teknologi yang digunakan.

Analisis Pendekatan teori produksi

1.    Teori Produksi dengan Satu Input (Satu Faktor Produksi yang Berubah)
Teori produksi ini menjelaskan bahwa dalam kegiatan memproduksi, hanya terdapat satu faktor yang berubah, faktor lain dianggap tetap. Misalnya tenaga  kerja yang berubah, otomatis yang lain seperti modal, sumber daya, teknologi tidak berubah atau tetap.
The law of Dimishing Marginal Return  menyatakan bahwa bila salah satu faktor produksi dimisalkan (tenaga kerja) ditambah secara terus menerus maka produksi total akan bertambah terus dengan kondisi mula-mula pertambahannya besar, kemudian pertambahannya semakin lambat sampai produksi total mencapai tingkat maksimum dan bila tenaga kerja ditambah lagi maka produksi total semakin lama semakin berkurang.
  Rumus fungsi Produksi dengan satu input variabel, antara lain:
a) Produksi marjinal adalah tambahan produksi yang diakibatkan oleh pertambahan satu tenaga kerja yang digunakan. Untuk menghitung produksi marjinal dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

            MP  = Produksi marjinal
            ΔTP = Pertambahan produksit total
            ΔL    =Pertambahan tenaga kerja

b) Produksi rata-rata yaitu produksi yang secara rata-rata dihasilkan oleh setiap pekerja. Untuk menghitung produksi rata-rata dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

       Keterangan:

            AP  = Produksi rata-rata
            TP  = Produksit total
L     = Jumlah tenaga kerja
Dibawah ini gambaran mengenai produksi suatu barang pertanian di atas sebidang tanah yang tetap jumlahnya, tetapi jumlah tenaga kerjanya berubah-ubah (Sukirno, 2005:196). 

Kurva produksi total, produksi rata-rata, dan produksi marjinal dapat dilihat sebagai berikut:

Kurva TP adalah kurva produksi total. Ia menunjukkan hubungan antara jumlah produksi dan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan produksi tersebut. bentuk TP cekung keatas apabila tenaga kerja yang digunakan masih sedikit (yaitu apabila tenaga kerja masih kurang dari 3). Ini menunjukkan tenaga kerja masih kekurangan kalau dibandingkan dengan faktor produksi lain. Dalam keadaan ini produksi marjinal bertambah tinggi, dan sifat ini dapat dilihat pada kurva MP yang menaik.
Tahap pertama dimulai dari titik 0 sampai AP maksimum. Setiap tambahan tenaga kerja menghasilkan tambahan produksi yang lebih besar dari yang dicapai pekerja sebelumya. Dalam analisis ekonomi keadaan itu dinamakan produksi marjinal pekerja yang semakin bertambah. Kecepatan kenaikan tinggi ditandai dengan slope yang curam. MP bernilai positif artinya jika tenaga kerja ditambah masih ada output yang dihasilkan. Tahap ini dapat dikatakan daerah irasional (tidak masuk akal) karena TP masih bisa ditingkatkan.
Tahap kedua dimulai dari perpotongan antara kurva MP dan kurva AP, dimana AP merupakan titik maksimum. Tahap kedua berakhir ketika MP bernilai 0. AP dan MP menunjukkan penurunan tapi masih positif artinya ketika tenaga kerja ditambah nilai TP masih meningkat namun dengan kecepatan yang mulai lambat (produksi marjinal berkurang). Pada tahap ini produksi rata-rata mencapai tingkat yang paling tinggi. Tahap ini dapat dikatakan daerah paling rasional karena nilai TP di tahap ini masih lebih tinggi dibandingkan tahap pertama.
Tahap ketiga di mulai setelah MP=0, nilai AP terus menurun dan MP bernilai negatif, artinya ketika tenaga kerja ditambah sudah tidak dapat menambah output. Pada waktu tenaga kerja bertamah dari 7 menjadi 8, produksi total masih mengalami peningkatan yaitu sebanyak 15 unit. Akan tetapi apabila satu lagi tenaga kerja ditambah dari 8 pekerja menjadi 9 pekerja produksi totalnya menurun. Produksi total berkurang lebih lanjut apabila tenaga kerja menjadi 10. Keadaan dalam tahap ini menunjukkan bahwa tenaga kerja yang digunakan adalah jauh melebihi daripada yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan produksi tersebut secara efisien. Tahap ini dapat dikatakan daerah irasional (tidak masuk akal) karena TP terus menurun.

2.    Teori Produksi dengan Dua Input (Dua Faktor Produksi yang Berubah)

Teori ini menggambarkan hubungan tingkat output yang dihasilkan dengan menggunakan dua input (faktor produksi) yang berubah (misalnya tenaga kerja dan modall) sedangkan input lain dianggap tetap. Besar kecilnya output yang dihasilkan akan tergantung pada besar kecilnya kedua faktor produksi (tenaga kerja dan modal) yang digunakan. Kedua faktor dapat saling dipertukarkan penggunaannya. Sehingga terdapat 2 Konsep yaitu konsep isoquant dan isocost (Amaliawati dan Murni, 2017:180).
a.      Kurva Produksi Sama (Isoquant)
Kurva Isoquant merupakan kurva yang menunjukkan berbagai kemungkinan kombinasi faktor-faktor produksi yang menghasilkan tingkat produksi yang sama (Nuraini, 2016:72).
Isoquant adalah suatu kurva yang menggambarkan gabungan dua faktor produksi yang berbeda yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu (Sukirno, 2005:204).
Isoquant adalah suatu garis yang menghubungkan titik-titik kombinasi dari penggunaan dua faktor produksi yang menghasilkan jumlah outputsama dan berkemiringan negatif (Amaliawati dan Murni, 2017:186).
Misalkan pengusaha ingin memproduksi suatu barang sebanyak 1000 unit. Berikut gabungan tenaga kerja dan modal (Sukirno, 2005:199):

Gabungan A menunjukkan bahwa 1 unit tenaga kerja dan 6 unit modal dapat menghasilkan produksi yang diinginkan tersebut. Gabungan B menunjukkan bahwa yang diperlukan adalah 2 unit tenaga kerja dan 3 unit modal. Gabungan C menunjukkan yang diperlukan 3 unit tenaga kerja dan 2 unit modal. Gabungan D menunjukkan bahwa yang diperlukan adalah 6 unit tenaga kerja dan 1 unit modal.
Kurva isoquant ini menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu. Dalam contoh yang dibuat tingkat produksi 1000 unit. Disamping itu di dapati kurva IQ1, IQ2, IQ3 yang terletak diatas kurva IQ. Ketiga kurva lain tersebut menggambarkan tingkat produksi yang berbeda-beda, yaitu berturut-turut sebanyak 2000 unit, 3000 unit, dan 4000 unit (semakin jauh dari titik 0 letaknya kurva, semakin tinggi tingkat produksi yang ditunjukkan).
b.      Garis Ongkos Sama (Isocost)
Isocost merupakan garis yang menggambarkan kombinasi faktor-faktor produksi yang dapat dibeli dengan menggunakan sejumlah anggaran tertentu (Nuraini, 2016:73).
Isocostadalah suatu kurva yang menggambarkan gabungan dua faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu barang  yang memerlukan biaya yang sama (Sukirno, 2005:204).
Isocost atau garis biaya yang menggambarkan kombinasi dua faktor produksi yang dapat dipakai dalam proses produksi dengan biaya yang dikeluarkan sama. Isocost line (kurva isocost)menunjukkan penggunaan semua kombinasi modal (K) dan tenaga kerja (L) dengan mengeluarkan biaya yang sama (Amaliawati dan Murni, 2017:188).
Untuk membuat garis biaya sama data yang diperlukan antara lain(Sukirno, 2005:201):
1.         Harga faktor-faktor produksi yang digunakan
2.        Jumlah uang yang tersedia untuk membeli faktor-faktor produksi.

        
Diketahui:
·         Upah tenaga kerja = 10.000
·         Biaya modal per unit 20.000
·         Jumlah uang yang tersedia adalah 80.000.
Misalkan pengusaha ingin memproduksi suatu barang dengan modal yang tersedia 80.000. Berikut kombinasi tenaga kerja dan modal:
 
Garis TC menunjukkan gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan menggunakan 80.000. Seterusnya titik A pada TC menunjukkan dana sebanyak 80.000 dapat digunakan untuk memperoleh 2 unit modal dan 4 pekerja. Dalam gambar ditunjukkan beberapa garis biaya sama yang lain yaitu TC1. TC2, TC3. Garis itu menunjukkan biaya sama apabila jumlah uang yang tersedia adalah 100.000, 120.000 dan  140.000.
c.      Memaksimumkan Produksi dan Memimumkan Tenaga kerja

        Diketahui:
·         Upah tenaga kerja = 10.000
·         Biaya modal per unit 15.000
·         Jumlah uang yang tersedia adalah 300.000.
Misalkan pengusaha ingin memproduksi suatu barang dengan modal yang tersedia 300.000. Berikut kombinasi tenaga kerja dan modal:
 
Dengan uang sebanyak 300.000 produsen dapat sekiranya membeli satu jenis faktor produksi saja, membeli 20 unit modal atau 30 tenaga kerja. Garis biaya sama TC2 menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat diperoleh dengan uang yang tersedia.
Terdapat 5 titik yang terletak pada berbagai kurva produksi sama yang merupakan titik perpotongan atau titik persinggungan dengan garis TC2 yaitu A, B, C, D, dan E. dari kelima titik ini titik E terletak di kurva produksi sama yang paling tinggi yaitu kurva produksi sama pada tingkat produksi sebanyak 2500 unit. Ini berarti gabungan yang diwujudkan titik E akan memaksimumkan jumlah produksi yang dapat dibiayai oleh uang sebanyak 300.000. gabungan tersebut terdiri dari 12 unit modal dan 12 tenaga kerja.
Misalkan produsen ingin memproduksi sebanyak 1500 unit. Kurva potong atau singgung oleh garis-garis biaya sama di 5 titik yaitu A, B, Q, R dan P. titik-titik menggambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang dapat digunakan untuk menghasilkan produksi sebanyak yang diinginkan. Gabungan biaya yang paling minimum adalah gabungan yang ditunjukkan oleh titik yang terletak pada garis biaya sama yang paling rendah. Titik P adalah pada garis biaya sama (yang menyinggung kurva produksi sama IQ) yang paling rendah, yaitu garis TC. Dengan dimikian titik ini menggambarkan gabungan tenaga  kerja dan modal yang akan membutuhkan biaya yang paling minimum untuk menghasilkan 1500 unit. Faktor produksi itu terdiri dari 9 tenaga kerja dan 8 unit modal, biaya yang dikeluarkan adalah 210.000.


Daftar Pustaka

Amaliawiati, L. dan Murni, A. (2017). Ekonomika Mikro Edisi Revisi kedua. Bandung: Refika Aditama
Nuraini, I. (2016). Pengantar Ekonomi Mikro. Malang: UMM Press
Sukirno, S. (2005). Mikro Ekonomi Teori Pengantar (Edisi ketiga). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Wibowo, S., & Supriadi, D. (2013). Ekonomi Mikro Islam. Bandung: Pustaka Setia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.