Pengertian Perusahan Dagang
Perusahaan dagang merupakan perusahaan yang kegiatannya melakukan pembelian barang kemudian dijual kembali kepada konsumen tanpa mengubah bentuk.
Perusahaan dagang menurut Jusup (2011) adalah perusahaan yang kegiatan utamanya adalah membeli barang (produk jadi) dan menjualnya kembali kepada kosnumen. Perusahaan dagang dibedakan menjadi 2 yaitu perusahaan dagang besar (grosir) dan perusahaan eceran.
Perusahaan dagang menurut Sujarweni (2016:72) adalah perusahaan yang kegiatannya melakukan pembelian barang kemudian barang tersebut dijual kembali tanpa mengubah bentuk dengan harga yang lebih tinggi.
Ciri-ciri perusahaan dagang antara lain (Sujarweni, 2016:72):
  1. Kegiatannya melakukan pembelian dan penjualan tanpa mengubah bentuk dengan harga jual yang lebih tinggi dari harga beli.
  2. Pendapatan berasal dari penjualan barang dagang.
  3. Jenis persediaannya adalah persediaan barang dagangan.
  4. Terdapat perhitungan harga pokok produk.

Siklus Operasi Perusahaan Dagang

Siklus operasi (operating cycle) menurut Warrren et al (2017:282) adalah proses dimana suatu perusahaan mengeluarkan kas, menghasilkan pendapatan, dan menerima kas pada saat pendapatan diperoleh ataupun diperoleh nanti sebagai piutang usaha.

Berikut siklus operasi (operating cycle) menurut Warrren et al (2017:283):

Siklus perusahaan dagang dimulai dengan perusahaan membeli barang, sebelum perusahaan menjual barang tersebut perusahaan menyimpan barang dinamakan persediaan. Selanjutnya perusahaan menjual barang baik secara tunai dan kredit dan selanjutnya perusahaan akan memperoleh pembayaran (kas).
Perbedaan Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa
Perbedaan perusahaan dagang dan jasa dapat dilihat dari laporan keuangan. Pada perusahaan jasa, laporan neraca tidak memiliki persediaan seperti perusahaan dagang. Pendapatan perusahaan jasa disebut pendapatan jasa. Sedangkan Pendapatan perusahaan dagang disebut pendapatan penjualan. Beban pada perusahaan dagang ada dua yaitu beban pokok penjualan dan beban operasi. Beban pokok penjualan menurut Jusup (2011:344) adalah jumlah harga pokok semua barang yang terjual sepanjang periode.
Perbedaan perusahaan dagang dan jasa dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Sistem Persediaan: Perpetual dan Periodik
Metode pencatatan persedian barang dagangan ada 2 yaitu:
            1.         Sistem persediaan periodik
Sistem pencatatan persediaan ini hanya dilakukan pada akhir periode.  Pencatatan ini tidak detail, perusahaan hanya akan menghitung fisik diakhir periode (stock opname). Sistem ini biasanya digunakan pada perusahaan yang menjual barang dagangan yang relatif murah.
            2.        Sistem persediaan perpetual
Sistem pencatatan persediaan ini dilakukan setiap terjadinya transaksi.  Metode pencatatan ini lebih tertib, teratur dan detail, perusahaan akan selalu meng-update jumlah persediaan. Biasanya pencatatan ini sudah menggunakan scanning. Pada sistem ini perhitungan fisik tetap dilakukan minimal setahun sekali. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar tidak ada transaksi yang tidak terlewat oleh sistem (misalnya akibat pencurian, salah penyimpanan dsb).
Perbedaan Pencatatan Metode Periodik dan Perpetual

Syarat Penyerahan Barang

Syarat penyerahan barang secara umum dibagi menjadi 2 yaitu:
1.         FOB (Free on Board) Shipping Point
FOB Shipping Point merupakan syarat penyerahan barang dimana biaya angkut barang (ongkos kirim) serta tanggung jawab atas segala risiko terhadap barang dagang dalam perjalanan dari gudang penjual menuju ke gudang pembeli merupakan tanggung jawab pembeli.
Saat barang dagang yang dipesan oleh pembeli sudah keluar dari gudang penjual maka baik dari pihak penjual maupun pembeli dapat langsung melakukan pencatatan meskipun barang yang dikirim belum sampai ke gudang pembeli sekalipun.
2.        FOB (Free on Board) Destination
FOB Destinationmerupakan syarat penyerahan barang dimana biaya angkut barang (ongkos kirim) dan tanggung jawab atas segala risiko terhadap barang dagang dalam perjalanan dari gudang penjual menuju ke gudang pembeli merupakan tanggung jawab penjual.
Proses pencatatan atau penjurnalan persediaan barang terhadap pembelian barang dapat dicatat ketika barang dagang tersebut sudah sampai kepada pihak pembeli. Biasamua biaya angkut barang sudah termasuk dalam harga barang sehingga dalam pembukuan pada pihak pembeli tidak dicantumkan biaya angkut barang melainkan hanya ada pencatatan harga beli barang dagang tersebut.

Syarat Pembayaran

Macam-macam syarat pembayaran yang terdapat dalam perdagangan barang sebagai berikut:
1.         Tunai (cash)
Pembayaran dilakukan setelah penyerahan barang terjadi, dan jumlahnya sesuai dengan jumlah tagihan.
2.        Kredit
Beberapa syarat pembayaran secara kredit antara lain:
  • n/30, artinya pembayaran dilakukan paling lambat 30 hari setelah penyerahan barang.
  • EOM, artinya pembayaran dilakukan paling lambat pada akhir bulan setelah barang diserahkan.
  • 2/10, n/30, artinya pembayaran dilakukan paling lambat 30 hari setelah barang diserahkan. Apabila pembeli membayar paling lambat 10 hari setelah penyerahan barang maka pembeli akan mendapat potongan sebesar 2%.
  • n/10 EOM, artinya pembeli harus membayar paling lambat 10 hari sesudah akhir bulan.           
Transaksi Perusahaan Dagang
Kegiatan-kegiatan dalam perusahaan dagang antara lain:
1.         Pembelian

        Dalam sistem persediaan perpetual, pembelian barang dagang secara tunai dicatat sebagai berikut:
            Istilah pembelian kredit biasanya terlihat dari faktur (invoice)atau tagihan (bill) yang dikirimkan oleh penjual kepada pembeli. Berikut contoh invoice:

Syarat untuk waktu pembayaran yang disepakati oleh pembeli dan penjual disebut syarat kredit (credit terms) atau bisa disebut juga dengan termin. Dari faktur diatas terminnya maksimal pembayaran 30 hari, setelah barang diterima jika pembayaran minimal 10 hari maka akan memperoleh potongan/diskon sebesar 2%.
a.    Jurnal saat pembelian (barang diterima pembeli)
                 Persediaan barang dagang             Rp. 140.000
                             Utang usaha                                     Rp. 140.00
b.    Jurnal saat pelunasan sebelum tanggal 22 (12+10 hari=tanggal 22)
Ketika pembayaran sebelum tanggal 22 maka pembeli mendapat potongan 2%. @% dari 140.000 adalah 2.800 (2%x140.000=2.800).
Utang usaha                Rp. 140.000
   Kas                                                      Rp. 137.200
   Persediaan barang dagang             Rp.    2.800                           
c.     Jurnal ketika pelunasan setelah tanggal 22
Utang usaha                Rp. 140.000
   Kas                                                      Rp. 140.000
d.    Jurnal ketika ada retur (retur dilakukan sebelum pelunasan)
Retur pembelian adalah pengembalian persediaan karena barang cacat/rusak. Terkadang pembeli tidak melakukan pengembalian barang karena faktor biaya angkut sehingga ada sebagian menginginkan potongan pembelian. Ketika terjadi barang cacat pembeli akan menginformasikan kepada penjual biasanya menggunakan memo debit ke penjual untuk pengembalian barang atau pengurangan harga. Contoh Memo debit pada transaksi diatas:
Retur dilakukan tanggal 15 april 2017 sebelum pelunasan pembayaran. Bukti salinan memo debit ini sebagai dasar untuk mencatat retur dan potongan pembelian. Sehingga pembeli akan mencatat transaksi retur ini sebagai berikut:
       Utang usaha        Rp 20.000

                                                 Persediaan              Rp. 20.000 

e.    Jurnal ketika ada ongkos kirim
Dimisalkan diatas pembelian seharga 140.000, dengan retur sebesar 20.000 dan pembeli menanggung ongkos kirim sebesar 25.000. Biaya angkut akan mengakibatkan bertambahnya biaya perolehan barang dagangan (persediaan) sebesar 25.000. Jurnal untuk mencatat beban angkut adalah:
Persediaan                   Rp. 25.000
   Utang usaha                         Rp. 25.000
Ketika ada potongan pembelian/diskon maka beban angkut tidak termasuk dalam potongan tersebut. Ketika beban angkut menjadi tanggung jawab dari penjual maka jurnalnya:
Beban angkut penjualan       Rp. 25.000
   Kas                                                      Rp. 25.000
(jika pembayaran secara tunai)

Biaya perolehan bersih persediaan diatas jika ada potongan sebagai berikut:


2.        Penjualan

Pendapatan perusahaan dagang dicatat sebagai penjualan. Penjualan perusahaan dagang dapat dilakukan dengan cara tunai atau kredit. Penjualan kredit akan menimbulkan piutang dagang.
a.         Penjualan tunai
Tanggal 3 april 2017 PT. Strawberry menjual barang dagangan pada Toko Sweety  seharga 250.000 secara tunai. Jurnal yang dilakukan PT. Strawberry saat terjadinya transaksi sebagai berikut:
Beban pokok penjualan merupakan harga perolehan persediaan barang dagang. Beban pokok penjualan biasanya merupakan beban yang terbesar dalam sebuah perusahaan dagang.

b.        Penjualan kredit

           Tanggal 3 april 2017 PT. Strawberry menjual barang dagangan pada Toko Sweety  seharga 250.000 secara kredit dengan termi 2/10, n/30. Jurnal yang dilakukan PT. Strawberry saat terjadinya transaksi sebagai berikut:        
Contoh retur dan pengurangan harga penjualan sebagai berikut:
1)        Retur penjualan
Tanggal 4 april 2017 Toko Sweety mengembalikan barang seharga Rp 50.000. maka  PT. Strawberry selaku penjual akan mencatat sebagai berikut:
2)        Pengurangan harga penjualan
Tanggal 5 april 2017 PT. Strawberry selaku penjual memberikan pengurangann harga sebesar 20.000 karena produk ada yang cacat.  Dalam hal ini Toko Sweety tidak mengembalikan barang. PT. Strawberry tidak akan mencatat persediaan, jurnal yang dibuat:
3)        Potongan/diskon penjualan
Tanggal 10 april 2017 Toko Sweety melakukan pembayaran hutang, karena jangka waktu sebelum tanggal 13 (pembelian tangal 10, termin 2/10, n/30) maka Toko sweety mendapat potongan sebesar 2%. Jurnal yang dibuat PT Strawberry saat menerima pembayaran sebagai berikut:

c.         Pajak Penjualan dan Diskon
Produk yang dijual oleh perusahaan dagang kebanyakan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai 10%.
Pajak masukan adalah pajak pertambahan nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau impor Barang Kena Pajak. Ketika membeli barang maka kita disebut Pajak Masukan (PM).
Pajak Keluaran adalah pajak pertambahan nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau eskpor Jasa Kena Pajak. Ketika menjual barang maka kita disebut Pajak Keluaran (PK).
Seluruh pajak keluaran dikurangi dengan seluruh pajak masukan. Jika PK lebih besar dari PM, Pengusaha harus menyetorkan sejumlah tersebut ke kas negara dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP). Jika ternyata PK kurang dari PM maka terjadi lebih bayar. Pengusaha Kena Pajak (PKP) bisa memperhitungkan kelebihan bayar ini dengan perhitungan bulan berikutnya. Proses ini disebut kompensasi. Bisa juga PKP meminta kelebihan bayar tersebut. Proses ini disebut restitusi.
Contoh: tanggal 10 april 2017 PT. Alu (PKP) menjual barang dagangan sebesar 500.000. pajak keluaran yang dipungut 10%. Beban pokok penjualan 400.000. Jurnal untuk penjualan:

Pada tanggal 10 April 2017 PT. LA (PKP) membeli barang dagangan dari PT. Alu. Harga belinya adalah Rp500.000,- dan PPN masukan yang dibayar adalah Rp50.000,-. Jurnal akuntansinya adalah:

Pajak akan menjadi Beban Pokok Persediaan jika perusahaan bukan PKP.


Penyesuaian untuk Kehilangan Persediaan

Dalam sistem perpetual, jumlah persediaan setiap saat dapat diketahui. Namun jumlah persediaan tidak menutup kemungkinan berbeda. Hal ini bisa saja terjadi karena persediaan ada yang hilang di curi, rusak atau terjadi kekeliruan pengimputan. Perhitungan fisik diperlukan minimal setahun sekali pada akhir tahun. Selisih perhitungan fisik dengan catatan persediaan sering disebut penyusutan persediaan (inventory shrinkage) atau kehilangan persediaan (inventory shortage).
Contoh: persediaan barang dagang tanggal 31 desember 2017 menunjukkan saldo 550.000. Dari hasil perhitungan fisik persediaan berjumlah 510.000. 




Daftar Pustaka

Jusup, A. H. (2011). Dasar-dasar Akuntansi. Yogyakarta: STIE YKPN
Reeve, james M. Warren, Carl S. Duchac, Jonathan E. Wahyuni, Ersa Tri. Jusuf, Amir Abadi. (2017). Pengantar Akuntansi 1 Adaptasi Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Salemba Empat. 

Sujarweni, V. W. (2016). Pengantar Akuntansi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.