Tujuan Perusahaan

Usaha atau perusahaan menurut Warrren et al (2017:2)  adalah suatu organisasi dengan sumber daya dasar (input), seperti bahan baku dan tenaga kerja, digabung dan diproses untuk menyediakan barang atau jasa (output) untuk pelanggan.
Tujuan perusahaan menurut Kasmir (2009:8) antara lain:
1.         Memaksimalkan nilai perusahaan
2.        Maksimalisasi laba
3.        Menciptakan kesejahteraan bagi stakeholder
4.        Menciptakan citra perusahaan
5.        Meningkatkan tanggung jawab sosial
Tujuan perusahaan menurut Warrren et al (2017:2) adalah memaksimalkan keuntungan (profit). Keuntungan atau laba adalah selisih antara uang yang diterima dari pelanggan atas barang atau jasa yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan untuk input yang digunakan guna menghasilkan barang/jasa.
Tujuan Perusahaan  adalah memaksimumkan kekayaan/nilai perusahaan bagi para pemegang saham. Nilai perusahaan yang sudah go public tercermin dalam harga saham perusahaansedangkan pengertian nilai perusahaan yang belum go public nilainya terealisasi apabila perusahaan akan dijual (total aktiva dan prospek perusahaan, risiko usaha, lingkungan usaha dan lain-lain)(Margaretha, 2005:1).
Nilai perusahaan terdiri dari nilai utang dan saham. Memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, nilai utang konstan maka nilai perusahaan akan maksimum. Kemakmuran pemegang saham sering diterjemahkan ke dalam kenaikan harga pasar saham (Hanafi, 2016:4).
Fama (1978) menyatakan bahwa nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham yang dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan.
Ahli keuangan James C. Van Horne menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapain tujuan perusahaan, antara lain (Kasmir, 2009:2-3):
1.         Kompetisi antar perusahaan
2.        Pemilihan teknologi
3.        Perubahan harga
4.        Perubahan tingkat suku bunga
5.        Ketidakpastian situasi ekonomi local dan dunia
6.        Fluktuasi nilai tukar
7.        Perubahan hukum pajak
Pengertian Manajer Keuangan
Manajer keuangan merupakan sebagai kegiatan perencanaan, pengorganisasian, staffing, pelaksanaan dan pengendalian fungsi-fungsi keuangan (Hanafi, 2016:2).
James C. Van Horne mendefinisikan manajemen keuangan adalah segala aktivitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh (Kasmir, 2009:5).
Manajemen keuangan menurut Brigham adalah seni (art) dan ilmu (science) untuk me-menage uang, yang meliputi proses, institusi/lembaga, pasar dan instrument yang terlibat dengan masalah transfer uang di antara individu, bisnis dan pemerintah (Kasmir, 2009:6-7).
Tugas Manajer Keuangan
Tugas manajer keuangan menurut Kasmir (2009) antara lain:
  1. Mencari dana dan mengelola dana secara efisien dan efektif. Dana yang sudah diperoleh dialokasikan dalam berbagai bentuk investasi yang telah disusun sesuai rencana. Investasi dapat dilakukan dalam 2 hal, yaitu riil investment (investasi aktiva tetap seperti pendirian pabrik baru, pembelian mesin dsb) dan financial investment (investasi dalam surat berharga seperti pembelian saham atau obligasi).
  2. Mengelola piutang, dapat memprediksi pendapatan yang harus diterima dapat diperoleh tepat waktu.
  3. Mampu menginvestasikan dalam bentuk modal kerja seperti pembelian bahan baku atau bahan pembantu serta berkaitan dengan kelancaran proses produksi, seperti biaya gaji dan upah, biaya pemeliharaan dan biaya lainnya.
  4. Mengevaluasi kinerja perusahaan melalui analisis keuangan. 
Tugas manajer keuangan menurut Margaretha (2005:4) antara lain:
  1. Menetapkan pengalokasian dana (investment decision), tugas manajer untuk menentukan berapa jumlah optimal dari aktiva lancar yang harus disediakan dan memutuskan aktiva tetap mana yang harus dimodifikasi.
  2. Memutuskan alternatif pembiayaan (financial decision), keputusan ini mencakup hutang lancar dan sumber dana jangkan panjang.
  3. Kebijakan dalam pembagian dividen dividend decision), keputusan ini menyangkut prosentase laba yang dibayarkan sebagai dividen tunai, deviden saham, pemecahan saham dan pembelian kembali saham yang beredar
Fungsi Manajer Keuangan
Fred menjelaskan bahwa fungsi utama manajer keuangan adalah merencanakan, mencari dan memanfaatkan dana untuk memaksimalkan nilai perusahaanm atau dengan kata lain aktivitasnya berhubungan dengan keputusan tentang pilihan sumber dan alokasi dana (Kasmir, 2009:16).
Secara umum aktivitas manajer keuangan adalah (Kasmir, 2009:16-17):
1.         Meramalkan dan merencanakan keuangan
2.        Keputusan permodalan, investasi dan pertumbuhan
3.        Melakukan pengendalian
4.        Hubungan dengan pasar modal
Fungsi keuangan dalam perusahaan dibagi dalam dua hal, yaitu:
1.         Bendahara (treasurer)
          Tugas bendahara antara lain:
  • Penerimaan dana
  • Penyimpanan dana
  • Penyampaian laporan kas
  • Mengelola kredit (pinjaman kredit atau penjualan kredit)
  • Pembagian dividen
  • Menjalin hubungan dengan berbagai pihak
  • Mengelola asuransi
  • Mengelola dana pensiun

2.        Adminsitrasi dan accounting (controller)

Fungsi utama adminsitrasi dan accountingadalah pendataan dan pelaporan informasi keuangan yang menyangkut:
  • Menyiapkan dan menyampaian anggaran
  • Pemrosesan data akuntansi
  • Penyampaian laporan keuangan
  • Daftar gaji
  • Pajak
  • Audit internal
Di perusahaan besar disamping fungsi keuangan juga dibentuk komite keuangan.  Tugas komite keuangan antara lain:
  • melakukan pencarian dana,
  • mengelola anggaran modal dan operasi, misalnya membuat rencana operasi dan investasi yang dibutuhkan
Ruang Lingkup Manajemen Keuangan
Bidang keuangan dalam manajemen keuangan menurut Kasmir (2009:7) antara lain:
  • Finance service, merupakan bidang keuangan yang berhubungan dengan pembuatan desain dan konsultasi produk financial baik individu (perorangan), bisnis (dunia usaha), dan pemerintah. Hal-hal yang berkaitan dengan jasa keuangan meliputi: loan officers, pialang dan konsultan keuangan.
  • Managerial finance, merupakan kegiatan yang berhubungan dengan tugas-tugas manajer keuangan diperusahaan yang aktif dalam mengelola keuangan seperti menyusun budget, peramalan keuangan, manajemen kas, administrasi kredit, mencari dana dan melakukan investasi.
Tujuan Manajemen Keuangan
Dalam praktiknya untuk mencapai tujuan perusahaan, manajemen keuangan memiliki tujuan melalui dua pendekatan, yaitu (13-14):
  • Profit risk approach, dalam hal ini manajer keuangan tidak hanya mengejar maksimalisasi laba, akan tetapi juga harus mempertimbangkan risiko yang bakal dihadapi. Manajer keuangan juga harus terus melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap seluruh aktivitas yang dijalankan. Manajer keuangan harus menggunakan prinsip kehati-hatian. Secara garis besar profit risk approach terdiri dari maksimlisasi profit, minimal risk, maintain control dan achieve flexibility (careful management of fund and activities).
  • Liquidity and profitability, merupakan kegiatan yang berhubungan dengan bagaimana seorang manajer keuangan mengelola likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Likuiditas, manajer keuangan harus sanggup untuk menyediakan dana (uang kas) untuk membayar kewajiban yang sudah jatuh tempo secara tepat waktu. Selanjutnya perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan laba perusahaan.
Tugas manajer keuangan adalah mengambil keputusan investasi, pendanaan dan likuiditas dengan tujuan memaksimumkan dengan tujuan kemakmuran pemegang saham (nilai saham) (Hanafi, 2016:3).
Tujuan keputusan investasi adalah memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, dengan tingkat risiko yang tertentu. Keuntungan yang tinggi disertai dengan risiko yang bisa dikelola diharapkan akan menaikkan nilai perusahaan, yang berarti menaikkan kemakmuran pemegang saham. Investasi jangka pendek seperti piutang dagang, sedangkan investasi jangka panjang dapat berupa pembelian mesin pabrik (Hanafi, 2016:3).
Tujuan keputusan pendanaan adalah memperoleh dana dengan biaya yang paling murah.  Utang dagang merupakan contoh pendanaan jangka pendek, sedangkan utang dari bank dengan jangka waktu 10 tahun atau obligasi dengan jangka waktu 10 tahun merupakan contoh utang jangka panjang. Komponen jangka pendek dari aktiva dan pasiva membentuk modal kerja. Modal kerja bersih adalah aktiva lancar dikurangi utang lancar. Modal kerja merupakan hasil dari keputusan operasional (sehari-hari) (Hanafi, 2016:4).
Maksimimasi Keuntungan Versus Maksimisasi Nilai Saham
Nilai perusahaan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan aliran kas yang positif misalnya perusahaan menerbitkan surat berharga dengan biaya yang sedikit dan mendatangkan aliran kas masuk yang positif.  Tiga dimensi aliran kas yang perlu diperhatikan: besarnya (magnitude), timing dan risiko. Aliran kas yang besar, diterima di awal dan mempunyai risiko yang rendah, mempunyai nilai yang tinggi. Aliran kas yang menjadi fokus manajer berbeda dengan keuntungan akuntansi. Keuntungan akuntansi diperoleh dari pendapatan dikurangi dengan biaya yang di keluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Untuk depresiasi akan menjadi biaya dan mengurangi jumlah laba, namun biaya depresiasi tidak ada aliran kas yang keluar, sehingga aliran kas akuntansi diperoleh dari jumlah laba ditambah biaya depresiasi (Hanafi, 2016:5-7).
Maksimisasi keuntungan dengan maksimisasi nilai saham merupakan hal yang berbeda. Nilai saham ditentukan oleh banyak faktor: keuntungan perusahaan, risiko, dan faktor lain. Harga saham yang terjadi merupakan konsensus yang terjadi dipasar keuangan terhadap prospek dan risiko perusahaan dimasa yang akan datang. Harga tersebut mencerminkan informasi besarnya aliran kas, timing, risiko dan lainnya yang dianggap relevan oleh investor.
Perbedaan maksimalkan nilai perusahaan dengan memaksimalkan laba perusahaan yaitu (Kasmir, 2009:12-13):
  1. Maksimalisasi nilai perusahaan memperhitungkan tingkat risiko dan arus pendapatan, sedangkan maksimalisasi laba tidak. Contoh suatu usaha yang memberikan laba tinggi akan memberikan risiko yang tinggi pula. Sedangkan yang dicari perusahaan adalah risiko relatif aman meskipun laba kecil, sehingga mampu mempertahankan atau meningkatkan nilai perusahaan.
  2. Untuk memaksimalkan nilai perusahaan kita harus memperhitungkan arus laba jangka panjang dan nilai waktu daripada uang, hanya saja maksimalisasi laba dalam jangka panjang merugikan perusahaan. Sebagai contoh perusahaan dapat melakukan efisiensi guna meningkatkan laba, akan tetapi akan menurunkan nilai aktiva sehingga menurunkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
  3. Maksimalisasi nilai menghindari masalah perbedaan kualitas pada arus dana, angka lebih bervariasi yang bergantung kepada kebiasaan akuntansi yang digunakan, dan mengutamakan pada arus kas atau dana bukan tergantung pada bentuk pengukuran laba.
Hubungan Manajer dan pasar keuangan
Hubungan konseptual antara manajer keuangan dengan pasar keuangan antara lain (Hanafi, 2016:8):
  1. Manajer keuangan mencari dana dari pasar keuangan dengan jalan menerbitkan sekuritas atau memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan. Pada dasarnya ada dua jenis sekuritas/instrumen dasar yaitu: saham dan utang. Saham merupakan bentuk kepemilikan sedangkan utang merupakan pinjaman.
  2. Dana tersebut kemudian diinvestasikan oleh manajer keuangan, membeli aset yang bisa menghasilkan kembalian.
  3. Aset akan menghasilkan keuntungan
  4. Sebagian dana akan dikembalikan ke pasar keuangan melalui medium yang berbeda-beda, antara lain dividen, bunga atau pinjaman pokok utang.
  5. Sebagian kembalian (tingkat keuntungan) ditanamkan kembali oleh manajer keuangan ke dalam pasar. Kebijakan dividen akan membicarakan seberapa besar keuntungan dibagian ke pemegang saham.
Perusahaan sebagai serangkaian kontrak:
Perusahaan bisa dipandang sebagai serangkaian kontrak, yaitu kontrak antara pihak-pihak yang berkaitan satu sama lain. Contoh manajer melakukan kontrak dengan karyawan, pemegang saham, kreditur atau lembaga keuangan perbankan. Ada potensi konflik dalam perusahaan antara lain (Hanafi, 2016:9-14):
1)        Konflik antara pemegang saham dengan manajer
Manajer disewa perusahaan untuk menjalankan perusahaan agar perusahaan mencapai tujuan pemegang saham, yaitu memaksimumkan nilai perusahaan. Terkadang manajer mempunyai agenda sendiri yang tidak selalu konsisten dengan tujuan perusahaan. Misalnya manajer mengingikan fasilitas yang bagus, dari kantor yang nyaman, mobil, dsb. Donalson, seorang peneliti Amerika Serikat menyebutkan dua motivasi manajer yaitu:
  • Survival, manajer berusaha menguasai sumber daya agar perusahaan terhindar dari kebangkrutan.
  • Independensi atau kecukupan diri, manajer ingin mengambil keputusan yang bebas dari tekanan pihak luar termasuk dari pasar keuangan. Manajer tidak suka mengeluarkan saham karena akan mengundang campur tangan pihak luar.
Motivasi tersebut cenderung mempunyai tujuan memaksimumkan perusahaan bukan pemegang saham. Pemegang saham bisa melakukan sejumlah tindakan untuk memastikan bahwa manajer akan bertindak konsisten dengan pemegang saham. Tindakan ini membutuhkan biaya yang disebut dengan agency cost. Biaya tersebut terdiri dari biaya untuk memonitor dan mengimplementasikan alat control terhadap manajer. Sehingga pemegang saham mengalami kerugian yang disebut dengan kerugian sisa (residual loss).
Beberapa cara pemegang saham untuk mengontrol manajer antara lain:
  • bisa membentuk dewan komisaris (board of directors) untuk mengawasi manajer.
  • Sistem penggajian yang dikaitkan dengan prestasi perusahaan (keuntungan) dan opsi saham. Jika keuntungan perusahaan naik, manajer akan memperoleh bonus. Jika harga saham naik, manajer akan memperoleh bonus tambahan melalui opsi saham.
Agency free cash flow merupakan teori yang menjelaskan bahwa manajer akan berusaha memegang sumber daya perusahaan agar tetap dalam kendali manajer. Jika perusahaan memperoleh keuntungan yang tinggi, maka manajer akan berusaha agar keuntungan tersebut tetap berada ditangan manajer. Misalnya manajer tidak membayar dividen, tetapi melakukan akuisisi.
Jensen (1986) mendefinisikan aliran kas bebas (free cash flow) sebagai aliran kas yang tersisa setelah semua proyek NPV positif di danai. Free cash flow lebih baik dibagikan ke pemegang saham, bukannya ditahan, karena perusahaan tidak mempunyi kesempatan investasi yang menguntungkan. Sehingga pemegang saham bisa memaksimumkan kemakmurannya.
2)       Konflik antara pemegang saham dengan pemegang utang
Pemegang saham, melalui manajer bisa mengambil keuntungan atas pemegang utang. Konflik tersebut terjadi karena pemegang saham dengan pemegang utang mempunyai struktur penerimaan (pay off)yang berbeda. Pemegang utang memperoleh pendapatan tetap (bunga) dan pinjaman pokok, sedangkan pemegang saham memperoleh pendapatan di atas kelebihan kewajiban yang perlu dibayarkan ke pemegang utang. Jika nilai perusahaan berada dibawah nilai kewajiban utang, pemegang utang berhak semua. Jika nilai perusahaan naik diatas nilai utang, pemegang saham berhak atas kelebihan tersebut. semakin tinggi kelebihan tersebut, semakin tinggi nilai yang dimiliki pemegang saham, sementara pemegang utang tetap, tidak berubah. Perbedaan (asimetri) struktur pay-off tersebut bisa menyebabkan perbedaan prilaku.
3)       Konflik antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas
Pemegang saham tidak bersifat homogen, sehingga akan ada potensi konflik antar pemegang saham. Sebagai contoh perusahaan yang sebelumnya dikendalikan oleh pendiri, kemudian menjual sebagian kecil saham ke publik. Dalam kasus ini terdapat dua jenis pemegang saham, yaitu saham mayoritas dengan saham minoritas. Potensi konflik terjadi ketika pemegang saham mayoritas mengambil manfaat atas pemegang saham minoritas.
Daftar Pustaka
Fama, E.F. (1978). The Effects of a Firm’s Investment and Financing Decisions on The Welfare of Its Security Holders. The American Economic Review, 68(3), 272-284.
Hanafi, Mamduh M. (2016). Manajemen Keuangan (Edisi kedua). Yogyakarta: BPFE.
Kasmir. (2009). Pengantar Manajemen Keuangan.Jakarta: Kencana
Margaretha, Farah. (2005).Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan. Jakarta: Grasindo.
Reeve, james M. Warren, Carl S. Duchac, Jonathan E. Wahyuni, Ersa Tri. Jusuf, Amir Abadi. (2017). Pengantar Akuntansi 1 Adaptasi Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Salemba Empat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.