Pengertian Pengangguran

Pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekonomian yang secara aktif mencari kerja tetapi belum memperolehnya. Tingkat pengangguran adalah perbandingan (dinyatakan dalam persen) diantara jumlah tenaga kerja yang menganggur dengan jumlah tenaga kerja pada suatu waktu tertentu. Pengangguran sukarela adalah orang yang berada dalam lingkungan umur tenaga kerja (15-64 tahun) yang secara tidak aktif mencari kerja (Sukirno, 2016:28).
Pengangguran atau tuna karya menurut Wikipedia adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Pengangguran juga dapat didefinisikan sebagai berikut yaitu seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja, yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. 
Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerjamaupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.

Cara menghitung tingkat pengangguran adalah sebagai berikut:
 

Golongan penduduk yang termasuk sebagai angkatan kerja adalah sebagai berikut:
  • Penduduk yang berumur antara 15 hingga 64 tahun kecuali ibu rumah tangga yang lebih suka menjaga keluarganya.
  • Orang yang belum mencapai umur 64 tahun tetapi sudah pensiun dan tidak mau bekerja lagi.
  • Pengangguran sukarela yaitu golongan penduduk dalam lingkungan umur tersebut yang tidak aktif mencari pekerjaan.
Faktor utama yang menimbulkan pengangguran menurut Sukirno (2016:13) adalah kekurangan pengeluaran agregat. Pengeluaran agregat adalah perbelanjaan yang akan dilakukan dalam perekonomian dalam waktu tertentu. Pengeluaran agregat terdiri dari beberapa komponen seperti konsumsi citizen, pengeluaran pemerintah, investasi dalam perusahaan, serta ekspor impor. Faktor lain yang mempengaruhi masalah pengangguran antara lain:
  • Ingin mencari pekerjaan lain yang lebih baik.
  • Penggunaan peralatan produksi yang modern yang mengurangi penggunaan tenaga kerja.
  • Ketidaksesuaian diantara keterampilan pekerja yang sebenarnya dengan keterampilan yang sebenarnya dengan ketrampilan yang diperlukan dalam industri-industri.
Jenis-Jenis Pengangguran
Jenis-jenis pengangguran didasarkan pada dua penggolongan yaitu (Sukirno, 2016:328-330):
1)   Jenis pengangguran berdasarkan penyebabnya
(a)    Pengangguran normal atau friksional
Pengangguran normal atau friksional menurut Mankiw (2003:120) adalah pengangguran yang muncul karena adanya senjang waktu bagi pekerja untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan selera dan kemampuan mereka.
Pengangguran normal adalah pengangguran sebagai wujud apabila ekonomi telah mencapai kesempatan kerja penuh. Pada kesempatan kerja penuh tingkat pengangguran sekitar 2-3% dari jumlah tenaga kerja. Pengangguran ini biasanya terjadi karena mencari pekerjaan yang baru sehingga untuk sementara para pekerja tersebut menganggur.
Contoh: seseorang lulusan S1 yang sudah bekerja, kemudian memutuskan untuk kuliah lagi S2, setelah lulus S2 dia berhenti dengan pekerjaannya dan mencari kerja baru misalnya mencari pekerjaan sebagai dosen. Selama belum mendapatkan pekerjaan dia termasuk pengguran friksional.
(b)    Pengangguran siklikal
Pengangguran siklikal menurut Mankiw (2003:115) adalah penyimpangan tingkat pengangguran dari tingkat alamiahnya. Pengangguran ini terjadi karena perkembangan ekonomi yang sangat lambat atau kemerosotan kegiatan ekonomi, sehingga perusahaan akan mengurangi para pekerja atau menutup usahanya. Kemerosotan ekonomi mengakibatkan permintaan agregat menurun. Misalnya negara-negara produsen bahan mentah pertanian, kemerosotan komoditas. Hal ini menimbulkan efek bagi perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan, dan perusahaan akan mengurangi pekerjanya.
(c)     Pengangguran struktural
Pengangguran struktural Mankiw (2003:120) adalah pengangguran yang muncul karena jumlah pekerjaan yang tersedia di pasar tenaga kerja tidak cukup untuk menyediakan pekerjaan yang bagi siapapun yang menginginkannya.
Penganggurn struktural merupakan pengangguran yang muncul karena perkembangan perekonomian yang semakin maju, sedangkan tidak semua barang bisa bertahan sehingga sebagian akan mengalami kemunduran. Misalnya kemajuan teknology menyebabkan terciptanya barang baru yang lebih baik, barang lama yang tak mampu bersaing akan mengalami kemerosotan. Kemerosotan itu akan menyebabkan kegiatan produksi akan menurun, sebagian pekerja terpaksa diberhentikan dan menjadi penganggur.
(d)    Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang timbul oleh adanya penggantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia.
2)       Jenis pengangguran berdasarkan kepada cirinya
(a)    Pengangguran terbuka
Pengangguran terbuka merupakan pengangguran akibat pertambahan lowongan pekerjaan yang lebih rendah dari pertambahan tenaga kerja. Pengangguran terbuka merupakan wujud dari kegiatan ekonomi yang menurun, kemajuan teknologi yang mengurangi penggunaan tenaga kerja, atau sebagai akibat dari kemunduran perkembangan suatu industri.
(b)    Pengangguran tersembunyi
Pengangguran ini terutama wujud di sektor pertanian dan jasa, pada sektor tersebut seringkali didapati bahwa jumlah pekerja dalam suatu kegiatan ekonomi adalah lebih banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kelebihan tenaga kerja yang digunakan digolongkan dalam pengangguran tersembunyi. Contoh pelayan restoran yang lebih banyak dari yang diperlukan dan keluarga petani yang memiliki anggota cukup besar yang mengerjakan tanah yang sangat kecil.
(c)     Pengangguran bermusim
Pengangguran ini terutama terdapat di sektor pertanian dan perikanan. Pada musim hujan penyadap dan nelayan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka dan terpaksa menganggur. Pada masa nunggu panen juga petani yang tidak melakukan pekerjaan lain maka akan mengangggur.
(d)    Setengah Menganggur
Setengah menganggur adalah para pekerja yang memiliki jam kerja lebih sedikit dari jam kerja normal. Pekerja ini disebut dengan underemployment.
Tujuan Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Pengangguran
1.    Tujuan bersifat Ekonomi
a.      Menyediakan lowongan pekerjaan
b.      Meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat
c.       Memperbaiki pembagian pendapatan
2.   Tujuan bersifat sosial dan politik
a.      Meningkatkan kemakmuran keluarga dan kestabilan keluarga
b.      Menghindari masalah kejahatan
c.       Mewujudkan kestabilan politik
Masalah Pengangguran dan Kebijakan Pemerintah
Kebijakan fiskal: mengurangi pajak dan menambah pengeluaran pemerintah
Kebijakan moneter:            menambah penawaran uang, mengurangi/menurunkan suku bunga dan menyediakan kredit khusus untuk sektor atau kegiatan tertentu.
Kebijakan segi penawaran: mendorong lebih banyak investasi, mengembangkan infrastruktur, meningkatkan efisiensi administrasi pemerintah, memberi subsidi dan mengurangkan pajak perusahaan dan individu.

Pengertian Inflasi

Inflasi dapat di definisikan sebagai suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Tingkat inflasi rendah yaitu mencapai 2 atau 3 persen. Tingkat inflasi yang moderat mencapai diantara 4-10 persen. Inflasi yang sangat serius mencapai tingkat beberapa puluh atau beberapa ratus persen dalam setahun (Sukirno, 2016:14).
Faktor-faktor penyebab inflasi (Sukirno, 2016:14-15) antara lain:
  • Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa. Hal ini karena keinginan konsumen mendapatkan barang pada harga yang lebih tinggi, sehingga produsen akan berusaha menahan barangnya dan akan menjual pada konsumen yang bersedia membayar dengan harga yang tinggi. Kecenderungan ini akan menyebabkan inflasi.
  • Pekerja-pekerja diberbagai kegiatan ekonomi menuntut kenaikan upah.
  • Kenaikan harga-harga barang impor.
  • Penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti oleh pertambahan produksi dan penawaran barang.
  • Kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab.

Jenis-Jenis Inflasi

1      Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Sumber atau Penyebabnya
  •  Inflasi tarikan permintaan, inflasi ini merupakan kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh pertambahan pengeluaran yang besar yang tidak dapat dipenuhi oleh kemampuan produksi yang tersedia.
  • Inflasi desakan biaya, adalah kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan dalam biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah.
  • Inflasi impor, adalah kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang impor yang digunakan sebagai bahan mentah produksi dalam negeri.

 2     Berdasarkan tingkat kelajuan kenaikan harga-harga yang berlaku

  • Inflasi merayap. adalah proses kenaikan harga-harga yang lambat jalannya. Tingkat inflasi tidak melebih 2% atau 3% setahun. Malaysia dan Singapura adalah dua dari negara yang tingkat inflasinya dalam digolongkan merayap.
  • Inflasi sederhana (moderate), adalah inflasi yang tidak berada pada kondisi hiperinflasi namun tidak bisa menurunkan inflasi pada tingkat yang rendah, rata-rata inflasi mencapai 4-10%.
  • Hiperinflasi. adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam masa  yang singkat. Contoh di Indonesia pada tahun 1965 tingkat inflasi mencapai 500% dan pada tahun 1966 mencapai 650%. Ini berarti harga naik 5x lipat pada tahun 1965.
Efek Buruk Inflasi
1.    Perkembangan Ekonomi
Inflasi yang tinggi akan menimbulkan penurunan kegiatan ekonomi, hal ini karena dengan naiknya biaya produksi. Investasi produktif akan menurun sehingga meningkatkan pengangguran. Inflasi juga menimbulkan efek buruk terhadap neraca perdagangan. Kegiatan ekspor akan menurun karena kenaikan harga menyebabkan barang-barang tidak dapat bersaing di pasar internasional. Barang-barang impor akan lebih murah dan impor akan semakin meningkat.
2.   Kemakmuran Masyarakat
  • Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap, hal ini dikarenakan kenaikan upah tidak secepat dengan kenaikan harga-harga.
  • Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
  • Memperburuk pembagian kekayaan. Inflasi menyebabkan pembagian pendapatan diantara golongan berpendapatan tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak merata.
Masalah Inflasi dan Kebijakan Pemerintah
Kebijakan fiskal: menambah pajak dan mengurangi pengeluaran pemerintah
Kebijakan moneter: mengurangi, menaikkan suku bunga dan membatasi kredit
Dari segi penawaran: melakukan langkah-langkah yang dapat mengurangi biaya produksi dan menstabilkan harga seperti pengurangan pajak impor dan pajak ketas bahan mentah, melakukan penetapan harga, menggalakkan produksi dan menggalakkan perkembangan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA

Mankiw, N. G. (2003). Pengantar Ekonomi (Edisi kedua) Jilid 2Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sukirno, S. (2016). MakroEkonomi Teori Pengantar (Edisi ketiga). Jakarta: Rajawali Pers.
Wikipedia. Pengangguran. Retrieved February 17, 2017 from https://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.