Konsep Pendapatan Nasional
1.        Produk Domestik Bruto (PDB) /Gross Domestik Product (GDP)
Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara-negara tersebut maupun negara asing (Sukirno, 2016:35).
GDP = Pendapatan Masyarakat (dalam negeri) + Pendapatan Asing dalam negeri
Perhitungan PDB merupakan nilai dari barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan dalam negeri ataupun perusahaan asing yang berada atau dalam wilayah suatu negara. Contohnya seperti perusahaan Cuan dari China yang mempunyai cabang di Indonesia, hasil berupa barang dan jasa tersebut termasuk ke dalam perhitungan PDB.
2.       Produk Nasional Bruto (PNB)/ Gross National Product (GNP)
Dalam menghitung Produk Nasional Bruto (PNB), nilai barang dan jasa yang dihitung dalam pendapatan nasional hanyalah barang dan jasa yang di produksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari negara yang pendapatan nasionalnya dihitung (Sukirno, 2016:35).
GNP = Pendapatan WNI DN + Pendapatan WNI LN (luar negeri) – Pendapatan Asing DN
Perhitungan Produk Nasional Bruto merupakan nilai dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara selama satu tahun, termasuk yang dihasilkan oleh warga negara tersebut yang berada diluar negeri. Contohnya pendapatan WNI dari luar negeri seperti pendapatan TKI.
3.       Produk Nasional Netto (NNP)
NNP = GNP – depresiasi (penyusutan barang modal)
Depresiasi atau replacement dari barang modal adalah penyusutan peralatan produksi yang terpakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran, sehingga dapat menimbulkan kekeliruan meskipun relatif kecil.
4.       Pendapatan Nasional Netto (NNI)
Pendapatan Nasional Neto (Net National Income)merupakan pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.
 NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak hadiah, pajak penjualan, pajak impor dan lain-lain.
5.       Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan sesuatu kegiatan apa pun, yang diterima oleh penduduk sesuatu negara. Pendapatan pribadi sudah termasuk pembayaran pindahan. Pembayaran tersebut merupakan pemberian pemberian yang dilakukan oleh pemerintah kepada berbagai golongan masyarakat di mana para penerimanya tidak perlu memberikan suatu balas jasa atau usaha apa pun sebagai imbalannya  (Sukirno, 2016:47).
Pendapatan perseorangan (Personal Income) adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat , temasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Misalnya gaji seorang pegawai negeri, maupun pendapatan pengusaha yang didapatkan secara berantai.
PI = NNI – Pajak Perusahaan – Iuran (Asuransi+Jaminan) – Laba Ditahan + Transfer Payment
·     Pajak perusahaan daalah pajak atas laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah)
·    Laba ditahan adalah laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan)
·     Iuran pensiun adalah iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja. Juga termasuk iuran jaminan sosial serta  iuran asuransi.
·       Transfer Payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi, melainkan diambil sebagian dari pendapatan nasional tahun lalu. Seperti pembayaran dana pensiunan, tunjangan pengangguran, bunga utang pemerintah dan sebagainya.
6.       Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Disebut juga dengan disposible income yaitu pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.
 DI = PI – Pajak Langsung
Pajak langsung adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, seperti pajak pendapatan.
 
Rumus Pendapatan Disposebel juga dapat digambarkan sebagai berikut:
    Yd = YP —T
    Yd = C + S
Keterangan:
pendapatan disposebel (Yd)
pendapatan pribadi (YP)
Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional atau national income merupakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara. Pendapatan Nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam suatu tahun tertentu (Sukirno, 2016:35).
Pendapatan nasional yang masih meliputi depresiasi dinamakan Produk Nasional Bruto. Produk Nasional Neto adalah Produk Nasional Bruto kurangi depresiasi. Pada perhitungannya Pendapatan Nasional dinamakan Produk Nasional Netto pada harga faktor atau disebut Pendapatan Nasional.
Pendapatan Nasional Harga Berlaku dan Harga Tetap
Pendapatan nasional pada harga berlaku adalah nilai barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan sesuatu negara dalam satu tahun dan di nilai menurut harga-harga yang berlaku pada tahun tersebut. Cara ini adalah cara yang selalu dilakukan dalam menghitung pendapatan nasional dari suatu periode ke periode lainnya (Sukirno, 2016:36).
Pendapatan nasional pada harga tetap atau pendapatan nasional riil adalah harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun yang lain (Sukirno, 2016:36).
 
Pendapatan Nasional Harga Pasar dan Harga Faktor
Pendapatan nasional harga pasar yaitu pendapatan nasional yang diukur dengan menggunakan harga pasar atau harga yang dibayar oleh pembeli. Apabila pendapatan dihitung berdasarkan harga faktor maka pendapatan dihitung berdasarkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut.  Hubungan antara harga pasar dengan harga faktor menurut Sukirno (2016:37) dapat dinyatakan dengan persamaan:
Harga pasar=harga faktor+Pajak tak langsung-Subsidi

Perhitungan Pendapatan Nasional

Tiga cara Menghitung Pendapatan Nasional (Sukirno, 2016:34) antara lain:
1.    Pendekatan produksi atau product approach/Produk Neto
Pendekatan produksi dihitung dengan menjumlahkan nilai tambah/produksi barang dan jasa yang diwujudkan oleh berbagai sektor (lapangan usaha) dalam perekonomian. Dalam perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi ini ada satu hal penting yang harus diingat yaitu jangan sampai melakukan penjumlahan berulang (multiple accounting) terhadap suatu produk baik barang maupun jasa. Oleh karena itu aspek yang harus dijumlahkan dalam perhitungan yakni nilai tambah (value added) suatu produk baik barang maupun jasa, bukan dilihat dari nilai akhirnya.

Metode Produksi (production approach) terdiri dari dua perhitungan yaitu:
·      Produk neto (net output) berarti nilai tambahyang diciptakan dalam suatu proses produksi.
·      Cara kedua untuk menghitung pendapatan nasional ini adalah cara menghitung dengan menjumlahkan nilai tambah yang diwujudkan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai lapangan usaha dalam perekonomian.

Contohnya misalnya penjualan mebel di toko yang sebelumnya merupakan proses dari perusahaan yang berbeda-beda. Awalnya perusahaan yang menebang kayu  menjual kayu hutang kepada penggergaji papan seharga 50.000. Papan dijual seharga 200.000 kepada perusahaan perabot. Perabot membuat berbagai jenis perabot dan dijual sebesar 600.000 kepada toko Cuan. Toko cuan menerima 800.000 dari konsumen atas perabot tersebut. Berdasarkan diatas dapat kita lihat nilai tambah atas barang tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan demikian jumlah nilai tambah yang diwujudkan diatas sebesar 800 ribu. Dalam perhitungan menurut cara produk neto, nilai pendapatan yang disumbangkan berbagai kegiatan diatas adalah sama dengan perhitungan menurut pengeluaran.

Selanjutnya menghitung PNB menurut lapangan usaha. Perhitungan dibagi menjadi 9 sektor ekonomi. Dua sektor yang pertama disebut sektor primer, tiga sektor berikutnya disebut sekunder. Sedangkan sektor keenam sampai ke Sembilan digolongkan sektor jasa atau tersier. Berikut contohnya:
sumber: Sukirno, 44
Sehinga rumus Pendekatan Produksi adalah sebagai berikut:

Y=(P1X Q1)+(P2X Q2)+….(PnX Qn)

Keterangan :
Y= Pendapatan nasional
P1= harga barang ke-1             Pn= harga barang ke-n
Q1= jenis barang ke-1             Qn= jenis barang ke-n
Penggunaan pendekatan produksi dalam menghitung pendapatan nasional mempunyai dua tujuan penting:
1) Untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional.
2) Sebagai salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi neto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi
2.   Pendekatan pendapatan atau income approach
Pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk mewujudkan pendapatan nasional. Faktor-faktor produksi dibedakan menjadi 4 golongan: tanah (sewa), tenaga kerja (gaji/upah), modal (bunga) dan keahlian keusahawanan (keuntungan) (Sukirno, 2016:44).
Rumus pendekatan pendapatan adalah sebagai berikut: 
Y = r + w + i + p
Keterangan :
Y: Pendapatan Nasional
r : Pendapatan dari upah, gaji, dan lainnya
w: Pendapatan bersih dari sewa
i : Pendapatan dari bunga
p : Pendapatan dari keuntungan perusahaan dan usaha perorangan

3.   Pendekatan pengeluaran atau expenditure approach
Pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan nilai pengeluaran /pembelanjaan ke atas barang-barang dan jasa yang diproduksikan di dalam negara tersebut. Perhitungan pendapatan nasional pendekatan pengeluaran membedakan pengeluaran atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian kepada 4 komponen, yaitu konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, pembentukan modal sektor swasta (investasi) dan ekspor neto (Sukirno, 2016:37).
Konsumsi rumah tangga adalah pembelian barang-barang dan jasa produksi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Misalnya pembelian baju, televisi, handpone, sewa rumah dan pembelian ini bukan pembelian dari milik konsumen, selain itu untuk pembelian tanah atau rumah itu bukan konsumsi tetapi masuk dalam investasi (Sukirno, 2016:38).
Pengeluaran pemerintah yaitu pengeluaran untuk kepentingan masyarakat, menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pengeluaran untuk polisi dan tentara, pembayaran gaji pegawai pemerintah dan pembelanjaan untuk mengembangkan infrastruktur (Sukirno, 2016:38).
Pembentukan modal tetap sektor swasta atau investasi dibedakan kedalam tiga jenis pembelanjaan yaitu (Sukirno, 2016:38):
1.       Pengeluaran ke atas barang modal dan peralatan produksi
2.      Perubahan-perubahan dalam nilai inventori pada akhir tahun
3.      Pengeluaran-pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal
Ekspor neto yang dilakukan suatu negara dalam suatu tahun tertentu dikurangi dengan nilai impor dalam periode yang sama.
Perhitungan pendapatan nasional pendekatan pengeluaran dengan cara sebagai berikut:
Y = C + I + G + ( X – M )
Keterangan :
Y : Pendapatan nasional
C : Consumption (konsumsi rumah tangga)
I  : Investment(investasi)
G : Government expenditure (pengeluaran pemerintah)
X : Ekspor
M: Impor

  Contoh:

     PN = PNB-Pajak tak langsung+Subsidi-Depresiasi. Akan tetapi, dalam penghitungan di Indonesia Subsidi tidak dihitung. Oleh sebab itu di antara PNB dan PN terdapat hubungan yang berikut: PN = PNB – Pajak tak langsung–Depresiasi

Menentukan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu kegunaan penting dari data pendapatan nasional adalah untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai sesuatu negara dari tahun ke tahun. Dengan mengamati tingkat pertumbuhan yang tercapai dari tahun ke tahun dapatlah dinilai prestasi dan kesuksesan negara tersebut dalam mengendalikan kegiatan ekonominya dalam jangka pendek dan usaha mengembangkan perekonomiannya dalam jangka panjang. Perbandingan juga dapat dilakukan di antara tingkat kesuksesan negara itu dalam mengendalikan dan membangun perekonomiannya kalau dibandingkan dengan yang dicapai negara-negara lain (Sukirno, 2016:49).
 
Masalah-masalah perhitungan pendapatan nasional
        Masalah perhitungan pendapatan nasional (Sukirno, 2016:52-55)
1.    Pengumpulan data dan informasi
Data dan informasi mengenai produksi perusahaan tidaklah mudah didapatkan sehingga nilai produksi yang diperoleh hanya merupakan taksiran yang dibuat oleh BPS.
2.   Memilih kegiatan yang nilai produksinya dihitung
Dalam prinsip perhitungan pendapatan nasional  yang dihitung adalah nilai barang-barang yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan produktif dan barang-barang tersebut adalah diproduksikan untuk dijual.
3.   Masalah Perhitungan dua kali
Perhitungan dua kali timbul kesulitan dalam menentukan suatu barang itu tergolong barang jadi atau barang setengah jadi. Misalkan gula dan tepung, jika gula dan tepung digunakan untuk memasak maka gula dan tepung dikatakan barang jadi, sebaliknya jika gula dan tepung dibeli oleh perusahaan kue maka gula dan tepung barang setengah jadi sehingga terjadi perhitungan ganda.
4.   Menentukan harga barang-barang
Harga barang berbeda- beda antara daerah satu dengan daerah lain, selain itu harga terkadang setiap hari mengalami perbedaan. Sehingga untuk menghitung mengalami kesulitan.
5.    Investasi bruto dan investasi neto
Pebedaan antara investasi bruto dan investasi neto adalah depresiasi. Menghitung depresiasi suatu negara sangat susah karena tidak ada catatan yang lengkap mengenai depresiasi diberbagai kegiatan ekonomi. Terkadang pula depresiasi tidak diperlukan karena barang produksi dari mesin lama masih bisa dijual.
6.   Masalah kenaikan harga dan perubahan kualitas barang
Dari waktu ke waktu produsen akan menggunakan technology yang lebih baik dan ini akan menambah mutu barang yang akan diproduksi. Kenaikan harga keatas barang-barang meliputi kenaikan nilai dari barang-barang yang diproduksikan. Perhitungan produksi negara pada harga tetap dari masa ke masa mengabaikan kenaikan kualitas barang-barang yang akan diproduksikan.
Kegunaan data pendapatan nasional

Kegunaan data pendapatan nasional (Sukirno, 2016:55-57)
1.    Menilai prestasi kegiatan ekonomi
Semakin tinggi pendapatan nasional, semakin besar jumlah output yang diciptakan dalam suatu negara dan semakin tinggi kapasitas barang-barang modal yang digunakan. Kenaikan pendapatan nasional juga berkaitan dengan kenaikan kesempatan kerja. Apabila pengangguran tinggi, maka pendapatan nasional masih dibawah potensinya.
2.   Menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai
Perbandingan pendapatan nasional tahun tertentu dengan pendapatan nasional tahun sebelumnya maka dapat kita tentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sudah dapat digolongkan menggalakkan apabila tingkat yang dicapai  mampu mengurangi tingkat pengangguran. Minimum negara harus berusaha agar tingkat pertumbuhan ekonomi melebihi dari tingkat pertambahan penduduk, agar pendapatan nasional perkapita dapat ditingkatkan.
3.   Memberi informasi mengenai struktur kegiatan ekonomi
Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara perbelanjaan dapat menunjukkan nilai dan komposisi perbelanjaan agregat, sehingga dapat kita ketahui persentase konsumsi rumah tangga, perbelanjaan pemerintah, investasi, ekspor dan impor.
4.   Memberi gambaran mengenai tingkat kemakmuran
Pendapatan perkapita diberbagai negara dapat digunakan untuk membandingkan kesuksesan berbagai negara dalam usaha meningkatkan kemakmuran masyarakatnya.
5.    Data asas untuk membuat ramalan dan perencanaan
Data pendapatan nasional dapat memberikan informasi mengenai ciri-ciri dari kegiatan ekonomi. Data tersebut digunakan oleh perusahaan untuk merencanakan kegiatan ekonomi dimasa yang akan datang. Bagi pemerintah untuk merumuskan perencanaan ekonomi untuk mewujudkan pembangunan di masa yang akan datang, seperti meramalkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai, membuat ramalan mengenai perkembangan investasi dan ekspor,dan pertambahan kesempatan kerja yang akan berlaku.
Daftar Pustaka

Amalia, D. (2017, November). Pengertian dan Konsep Pendapatan Nasional. Jurnal. Retrieved February 17, 2017 from https://www.jurnal.id/id/blog/2017/pengertian-dan-konsep-pendapatan-nasional
Murnywantis. (2013, July).  Ringkasan materi Pendapatan nasional. Retrieved February 17, 2017 from https://murnywantis.wordpress.com/2013/07/03/ringkasan-materi-pendapatan-nasional/
Sukirno, S. (2016). MakroEkonomi Teori Pengantar (Edisi ketiga). Jakarta: Rajawali Pers.
Persentasi oleh  Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP tentang Penghitungan Pendapatan Nasional from https://www.scribd.com/doc/70356482/EKONOMI-MAKRO-Pendapatan-Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.